Selasa, 19 Juni 2012

[soundless voice for her] Lanjutan ketiga~


[Lanjutannya lagi~ *buset dah*]

Belanda, 07.00 a.m
                Terlihat banyak orang yang berkerumun di sepanjang taman Keukenhof. Mereka terlihat sangat terkejut, melihat polisi telah menemukan seorang mayat lelaki muda dan diperkirakan berumur sekitar 22 tahun terkubur diantara timbunan salju di taman tersebut… Diketahui pemuda tersebut berkewarganegaraan Indonesia. Diduga meninggal karena mengalami hiportemia, sebab kematiannya hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti.
                Dan pemuda itupun mati dalam damai, mati dengan seulas senyum dibibirnya. Di tangannya tergenggam secarik kertas kecil. Kertas lusuh yang bertuliskan untaian kata didalamnya. Sebuah pesan terakhirnya untuk seseorang—

Akhirnya, aku pergi terbawa oleh dewi salju.
Kita akan bertemu lagi, wahai malaikat saljuku…
-Rangga-

xxxxxx 

Last Note: Akhirnyaaaaaaa -________- sampai 3 entri bung... di word ini 12 halaman. last, mind to submit your comment abaot that :) Thank you :D

[sondless voice fo her] Lanjutannya~


[Lanjutannya, tempatnya gak cukup -________-] 
 
Aku sendiri pun tak tega melihat raut wajah sedihnya. Dia sungguh kuat, sanggup bertahan melawan penyakitnya yang semakin parah. Dan ia masih mau rawat inap di rumah sakit selama satu setengah setahun hanya demi kesembuhannya. Jika aku jadi dia mungkin aku sudah stressdan berakhir bunuh diri saat itu juga.
                Kurengkuh tubuh mungilnya dengan tanganku, dan memeluknya untuk membuatnya tenang. “Sebenarnya aku tak ingin menuruti permintaanmu karena udara salju diluar brbahaya untuk paru-parumu.” Anna pun mengeluarkan air matanya untuk kedua kalinya. “tapi, akan aku coba tanyakan hal ini pada dokter, apa kamu boleh keluar untuk melihat salju atau tidak. Tapi aku gak berjanji kau akan diizinkan.” ujarku tenang.
                “Benarkah? YAYYY!!!! Aku akan menunggu jawabannya, Rangga.” teriaknya lega dan dia kembali memelukku eratterlalu erat hingga aku sulit bernapas. Dan kembali ke ranjang tidurnya untuk kembali beristirahat.
                Kusibakkan selimut untuk membuat tubuh Anna hangat. Dan aku keluar dari kamarnya sambil tersenyum lega ketika melihat sepintas wajahnya yang terlelap dalam damai.

xxxxxx

                “Bagaimana, Rangga? Dibolehin dokter nggak?” tanya Anna sambil mempercepat langkahnya untuk menghampiriku. Aku pun segera menghampirinya dan menjitak dahinya dengan amat pelan.
                Anna pun mengaduh dan mengelus dahinya, “—AWW! Kau ini, main jitak aja kerjaannya.” dan hanya kutanggapi cuek.
                “Salahkan anak perempuan yang langkahnya secepat orang yang dikejar alien, padahal sakit.” jawabku cuek. Dan hal itu sukses membuatnya ngambek sambil menggembungkan kedua pipinya. Aku tertawa gemas melihatnya.
                “Hahaha… iya, maaf. Sebenarnya dokter sempat melarangmu untuk pergi keluar rumah sakit karena kondisimu yang masih lemah—” ujarku. Anna pun kecewa karenanya, sungguh lucu. “—tapi beliau memperbolehkanmu keluar, tapi tak lebih dari satu jam.” lanjutku kemudian.
                “Syukurlah, kukira aku tak diberi izin. Siapa tahu ini kali terakhirnya aku bisa melihat salju diluar.” celetukya sambil tersenyum.
—terakhir kalinya
Kenapa? Kenapa kata itu harus terucap
Dan kenapa firasatku terus memburuk?
Kenapa perasaan tak enak tentang Anna muncul lagi. Apa ini pertanda waktunya telah tiba? Aku pun tak tau dan tak berharap perasaan itu jadi kenyataan. Aku pun menyandarkan diriku ke dinding terdekat dan mencoba berpikir. Kuhiraukan Anna yang kini bingung sendiri dengan apa yang terjadi padaku. Samar-samar kudengar ia mengucapkan sesuatu.
                “Rangga…?”

xxxxxx

                Akhirnya kami pun berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan ke sebuah taman yang jaraknya tak jauh dari situ. Taman yang telah tertimbunkan salju, hamparan bunga Tulip yang biasa memberi warna pada taman ini pun ikut tertutup salju. Kulihat Anna  tak berhenti mengekspresikan kekagumannya dengan apa yang dipandangnya, terutama saat ia melihat hamparan putih salju disini.
                “Indahnya, aku rindu dengan suasana ini.” gumamnya sambil memejamkan matanya. “Rangga, kamu jahat juga ya, baru memberitahuku kalau ada taman yang seindah ini padaku.” cerocosnya sambil menggembungkan pipinya lagi, pura-pura cemberut.
                “Haha… ini namanya Taman Keukenhof, salah satu taman bunga yang terindah disini, ahh… bukan, tapi di seluruh dunia.” jawabku. Anna pun mengangguk paham.
                “Hmmm… lagipula, aku tak sampai hati memberitahumu, entar taman ini bakal rusak dirusakin sama kepala tulip betina macam dirimu.” candaku, Anna pun menginjak kakiku.
                Tapi memang aku sengaja tidak memberitahunya. Jika aku memberitahunya, maka ia akan mengajakku pergi ke sini, dan sekali lagi, dia tak bisa terlalu lama berada di lingkungan luar.
                Kami pun duduk di kursi taman yang kosong, sambil memandang langit. Tiba-tiba Anna pun menarik-narik jaketku.
                “Rangga, main lempar salju yuk, sudah lama aku tidak melukis wajahmu dengan lemparan salju milikku, ya…” pintanya tiba-tiba. Sungguh aku bimbang untuk menurutinya. ‘Apa tidak apa?’ batinku.
                “Hhh… baiklah jangan lama-lama, deal?” tawarku pada akhirnya dan hanya dibalas anggukan penuh semangat olehnya.
                Kami pun mulai mengambil bongkahan salju, dan mengepalkannya menjadi sebuah bola salju, lalu bola salju itupun kami lempar, saling melemparkan bola salju satu sama lain. Dan kami tertawa riang menikmati suasana ini, suasana layaknya sebelum Anna divonis mengidap penyakitnya, tanpa beban.
                Tak sengaja, bola salju milik Anna mengenai kepalaku. Seketika itu juga Anna tertawa melihat wajah dan rambutku yang berlepotan akan salju. Saat aku akan membalas lemparannya balik, kulihat raut wajahnya yang tiba-tiba putih memucat, dan senyum tawanya mulai memudar, ia pun limbung, dan terduduk di belantara salju. Deru nafasnya tersengal-sengal, aku pun segera menghampirinya, dan memeluknya agar ia merasa lebih hangat. Dan takkan membiarkannya mati konyol di taman ini.
                Anna yang nafasnya mulai sesak pun mengatupkan mulutnya berulang kali, mencoba mengambil nafas lebih banyak. Seketika, Anna memmegang jaketku dan menahan badannya agar tidak tumbang.
                “Hei, Rangga.” panggilnya, Aku pun terkejut dan refleks memeluknya lebih erat. Kurasakan firasatku semakin memburuk. “uhuk terima kasih kau mau mengajakku kesini…” ucapnya terbata. Apakah ini waktunya dia untuk pergi, pergi dari dunia yang fana ini.
                Kugeleng-gelengkan kepalaku, ‘Tidak… tidak, jangan hari ini, biarkanlah ia hidup.’ batinku memohon. “Anna, kau tak apa? Mau kugendong ke rumah sakit?” tanyaku. Namun Anna tak menanggapi ucapanku dan terus menyelesaikan ucapannya “terima kasih, telah menemaniku di saat apapun. Terima kasih kau mau menjagaku. Terima kasih kau mau menjadi sahabatku, ah tidak… Sahabat yang berharga bagiku. Melebihi apapun" deru nafasnya pun semakin sesak, kurasakan detak jantungnya semakin melemah. “Terima kasih untuk segalanya, Rangga…” lanjutnya. Dan perlahan tenaga Anna pun menghilang, pandangannya mengabur, dan kelopak matanya yang tertutup perlahan, membungkus mata indahnya. Anna pun jatuh tak sadarkan diri.
                “Oiii, Anna… bangunlah… bangun…” lirihku sambil meggoyangkan tubuhnya. Dan tak ada respon apapun darinya. Air mataku tak terbendung lagi, melihat Anna terbaring kaku. Kurasakan pembuluh nadinya berhenti berdenyut. Aku pun menitikkan air mataku, menangis sekeras yang aku bisa, meluapkan semua rasa sepi, kehilangan, dan sedih yang kurasakan ini.
                Dan Anna Wihelmina, sahabat yang kucintai telah pergi bersama Sang Dewi Salju. Beristirahat dalam damai dan menyunggingkan senyum malaikatnya mengiringi kepergiannya.

Air mata ku pun keluar, tanpa henti
Membentuk simfoni sarat kesedihan, simfoni tangis
Simfoni diantara salju pun ikut menemaninya
Pergi mengiringinya meninggalkan kefanaan dunia

xxxxxx

                AAKH!?
                Aku terbangun dari lamunanku, mungkin juga mimpi. ‘Lagi-lagi aku teringat malam itu…’ batinku. Sepertinya aku bermimpi tentang kejadian itu lagi. Entah kenapa sekuat apapun aku ingin menghilangkan memori itu, selalu saja hasilnya nihil. Aku berjalan tanpa arah di kerumunan orang-orang yang memandang kagum hamparan salju yang ada di taman kota. Ah, aku memang masih di Belanda, walaupun Negara ini juga yang meninggalkan serangakaian kenangan pahit pada ingatanku.
                Hari ini genap setahun kepergian Anna.  Setahun juga kenangan itu terkubur di otakku. Walaupun setahun telah berlalu. Hatiku masih tetap kosong, masih tetap hampa akan kepedihan dan kesepian.
                Aku pun berdiri dari kursi taman dan mulai berjalan lagi, menghindari keramaian. Pergi menuju tempat dimana aku bersama Anna terakhir kalinya. Pergi ke taman bunga itu. Tak terasa aku telah sampai di taman. Kupandang taman tersebut dengan pandangan kosong. “Seperti setahun yang lalu, tak ada yang berubah.” gumamku.
                Salju pun mulai turun menghiasi taman ini, salju yang turun tanpa suara. Aku menggerakkan tanganku ke depan, meraih butiran salju, kemudian butiran salju pun meleleh dan berubah menjadi bentuk yang lain, sama seperti Anna. Ia pergi meninggalkan dunia ini bersama kenangan-kenangan selama bersamanya. Hilang, tanpa suara terbawa Dewi salju. Seperti kilau matanya yang pelahan tertutupkan oleh kelopaknya dan takkan terbuka lagi untuk selamanya. Rasanya sungguh amat perih.

Namun, kini waktu pun tak dapat kembali.
Dia pun terlanjur pergi.

Hei, Anna apa yang harus kukatakan…
Meski kumencoba berteriak sekeras apapun…
Kau takkan bisa mendengarkan suaraku… Tak bisa mendegarnya lagi…
Apa kau kesepian disana, apa kau baik-baik saja disana…
Aku ingin bertemu denganmu, Aku rindu padamu…
Jangan tinggalkan aku sendiri disini, bukankah kita selalu bersama, kan?

Karena tanpamu…
Aku merasa sepi dan sendiri disini…
Hidup pun berubah menjadi monokrom…
Bagaikan hanya melihat warna abu-abu sepanjang mataku memandang
Tanpa ada warna lain yang mengelilingiku…

xxxxxx

                Dan salju pun mulai turun semakin deras… Hei, Anna kau tahu, aku bukanlah orang yang senang menggantungkan diri pada harapan? Tapi jika malam ini aku diberi satu permintaan, maka saat itu juga aku akan mengambil harapan itu dan berdoa agar menjadi kenyataan. Aku hanya berharap…
                aku hanya berharap kau dapat mendengar suaraku, memberikan senyuman manismu itu padaku. Berharap kau mengatakannya sekali lagi, katakanlah namaku, katakanlah… Aku ingin bersamamu seperti dahulu, setahun yang lalu…
                Dengarkan suaraku yang tak henti-hentinya menggumamkan namamu saat itu, yang terus menangis ditengah salju, walaupun air mataku telah membeku.
                —tes... tes… tes…
                Bulir-bulir air mataku terus berjatuhan… Dan salju pun semakin banyak dan turun bagaikan badai salju yang siap menerjang. Aku terus terdiam, tak berpindah tempat tuk menghindari salju, terus terdiam di tempat yang sama, merenungi seseorang yang sama. Air mataku terus bergulir jatuh dan kembali beku bersama salju, mencoba melepaskan jerit kesakitanku karena kehilangan Anna.
                Tuhan, jika memungkinkan… Jika aku bisa, ambilah semua. Ambilah suaraku, ambilah senyumku, ambilah ragaku ini… Berikan semua padanya, pada sahabat yang terlanjur kucinta. Sebab kurasa ku takkan bisa berdiri jika aku sendiri tanpanya. Sekuat apapun aku mencoba, hasilnya pun tetap sama.
                Aku berdiri, menunggu salju membawaku pergi, pergi bersamanya. Tubuhku pun mulai kedinginan, seakan menjadi sebeku es. Perlahan, pandanganku mengabur, kelopak mataku mulai tertutup, tubuhku mulai limbung dan terjatuh. Dan aku pun terjatuh bersama salju. Dan tertimbun bersama salju. Bersama semua kenanganku dan Anna. Anna, tunggulah aku, aku akan datang menyusulmu disana…
                “Ya, biarkan aku seperti ini, hingga akhir.” gumamku pelan, dan aku pun menutup mataku, hingga aku tak menyadari apapun.
Bersama turunnya salju…
Tolong teruslah turun, jangan berhenti…
Bawalah aku bersamanya
Bawalah suaraku, bawa pergi jiwaku…
Untuk dia yang ada disana…
Tolong hapuskan semua…
Hingga semua berubah menjadi putih
Seputih hamparan salju...

[Cerpen tugas] Soundless Voice For Her

Note: Sebenernya ini cerpen waktu aku bikin tugas Bahasa Indonesia -_________- dan cerita ini abal.... Komentar pertama yang (kebanyakan) terucap hanyalah: MADESU SANGAT!!!! hiks.... *pundung* So, Happy Reading~ (>____<)

Note 2: Basic song----> Soundless Voice by Kagamine Len (THIS IS EPIC SONG!!! disarankan baca sambil dengerin lagu ini yaaaaaa)


“ Rangga, kapan aku keluar dari rumah sakit? Aku pingin bisa main lagi
                Kalimat itu yang selalu terucap dari bibirnya. Kalimat yang penuh rasa ingin tahu yang besar, dan terdengar begitu polos dalam pendengaranku. Terasa begitu ceria, namun di satu sisi terdengar menyakitkan. Mengingat orang yang mengucapkannya, tak lama lagi usianya akan berakhir, berakhir direnggut penyakit Pneunomia yang dideritanya sejak lama.
                Ya, orang yang kumaksud itu adalah seorang gadis yang kini tengah terbaring dihadapanku. Berbaring dan tertidur pulas bagaikan seorang bayi mungil yang masih begitu polos, namun ia terbaring di ranjang yang tekontaminasi oleh bau obat yang memuakkan. Sekujur   tubuhnya terpasang alat infus dan alat bantu pernapasan  yang sama sekali tak nyaman untuk dipakai. Terbaring di ruangan serba putih yang penuh bau obat dan alat-alat medis yang bertebaran.
Ya, dialah sahabatku, Anna Wihelmina. Sahabat terbaikku, dan gadis yang kini diam-diam menaruh benih cinta dalam diriku. Gadis baik hati nan polos yang kini raganya tengah berperang dengan penyakit yang menggerogotinya. Kadang ingin sekali aku menggantikan posisinya. Gadis baik sepertinya tak pantas untuk diserang penyakit seperti ini. Tak pantas untuk merasakan hal ini.

xxxxxx
Soundless Voice for Her
xxxxxx

Entah berapa lama aku telah melamunkannya. Sambil memandang paras eloknya yang kini terlihat sayu dan pucat. Kebetulan seminggu ini kampusku diliburkan, dan waktu liburan ini akan kuhabiskan untuk merawat Anna. Aku tak peduli akan tugas liburan yang menumpuk banyak di rumah. Yang kupikirkan saat ini hanyalah sahabatku seorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
              “Umm… Ra Rangga… Sesejak kapan kau menungguku?” tanya Anna polos. Tersirat perasaan khawatir dan sedih di mata hijaunya.
                “Hmm… Sejak satu jam yang lalu kok, kebetulan kampus libur seminggu. Jadi aku ingin merawat sahabatku yang polos ini dong.” candaku. Sebenarnya aku sedikit berbohong padanya. Aku sudah disini hampir semalaman, hanya saja lebih baik bohong sedikit daripada Anna memasang tatapan maaf—aku–sudah–merepotkanmu Dan seperti biasa, kalau sudah begitu aku juga merasa sedih sendiri dan bisa-bisa aku akan menenangkan hatinya yang terlalu peka pada perasaan itu selama seharian.
Aku memposisikan diriku di samping ranjang yang ditempati Anna dan duduk di kursi terdekat yang tersedia disitu. Kupandangi wajah sahabatku ini, yang semakin lama semakin pucat. Menutupi paras aslinya yang sebenarnya cukup manis dan cantik itu menurut pandanganku. Kemudian tanganku bergerak ke arah meja yang terletak manis di sebelah tempat tidur, dan mengambil makan sarapan yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk Anna. 
                “Anna, ini sarapanmu. Tadi seorang suster yang memberi ini padamu.” ujarku lembut sambil membantu Anna untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dan menyerahkan jatah sarapan padanya.
“Rangga!!! Udah kubilang berapa kali sama kamu kalau aku nggak suka makanan rumah sakit. Rasanya sungguh aneh di lidahku. Nonsense!” elaknya sedikit kesal dan menyerahkan piring sarapan lagi padaku.  Hei, itu makanan. Dan makanan apapun tak boleh disia-siakan.
                “Haiih, terima aja, An. Itu makanan kan udah diukur dengan kebutuhan asupan gizimu, jadi makan saja, menyia-nyiakan makanan itu gak baik, Sama aja kayak kau menyiakan uangmu. Nanti aku jewer kamu.” omelku bagaikan ibu-ibu yang memarahi anaknya yang bandel. Bedanya Anna bukanlah anakku, namun keras kepalanya menyamai anak-anak.
 Omelanku yang juga kuselipkan candaan garing itupun membuahkan hasil. Anna tertawa cerah mendengarnya, sudah lama ia tak tertawa seperti ini, semenjak ia tergerogoti Pneumonia yang sempat membuatnya shock dan kehilangan semangat hidup. Aku pun menggelengkan kepala geli dan tersenyum lega.
                  “Syukurlah. Terima kasih Tuhan.” batinku lega.
Dan tak berapa lama kemudian, Anna pun mulai mengambil jatah sarapannya padaku dan mulai memakannya. Aku menemaninya sarapan sambil mengelontarkan candaan lucu atau mendongeng pengalaman-pengalamanku selama di kampus. Dan ia tanggapi dengan senyuman polosnya yang seperti anak kecil yang ingin mengetahui dunianya.
                Anna pun tersenyum lagi dan meminum minumannya, dan ia menatapku dengan intens. 
                “Aku dengar kau batal pulang ke negaramu selama liburan.” tanyanya sambil menatapku.
                “Iya. Bagaimana aku bisa pulang ke Indonesia dengan tenang jika tugas liburannya Mr. Makarov mengganguku dan membuatku tak bisa liburan. Haha…” Jawabku bohong yang hanya ditanggapi Anna dengan seulas senyuman. Faktanya Mr. Makarov, Dosenku itu tak memberiku tugas liburan. Yang menjadi alasan utamaku menunda libur ke kampung halaman hanyalah karena Anna.
Aku ingin menemaninya, menjaganya, dan membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Dan menemaninya sebagai sahabat terbaiknya di waktunya yang tak kan lama ini. Dua hari yang lalu aku sempat bertanya pada dokter yang menangani Anna untuk menanyakan kondisi fisiknya, dan Dokter bilang bahwa usianya tak kan bertahan lama lagi. Mengingat penyakit Pneumonia Anna sudah sukar untuk sembuh.

Andai saja penyakit bisa berpindah orang
Ingin kugantikan dia untuk merasakan sakitnya
Apapun yang bisa dilakukan akan kulakuakan
Demi dia, sahabatku yang kusayangi…

xxxxxx

Hawa dingin yang menerjang Belanda terus menusukku. Kugosokkan kedua tanganku untuk menghangatkan diri, sambil menemani Anna berceloteh ria tentang hal apapun yang ingin ia katakan, dari hal yang normal sampai hal yang absurd sekalipun. Seperti ia yang membayangkan jika aku memakai baju perempuandan itu terlalu memalukan bagiku,  lalu ia memotretnya dan menjadikan foto itu sebagai bagian koleksinya. Atau ia berbicara tentang masa-masa yang ia telah lewati bersamaku, kejahilan-kejahilan yang telah ia lakukan padakudan kenapa aku yang harus jadi korbannya. Atau yang lainnya.
Aku pun sedikit terhibur dengan celotehan Anna itu, hanya sedikit. Sedikit juga tak masalah kan?
“Rangga, kamu dengerin aku gak sih?? Daritadi kamu bengong kayak habis liat gajah terbang, ehh ?” celetuk Anna tiba-tiba. Sepertinya aku kebanyakan bengong lagi.
“Ahh… aku emang lagi ngelamunin gajah terbang. Tapi gajahnya itu kamu yang pakai kostum gajah.” candaku sambil melirik wajahnya yang sudah memerah malu.
”Eeee… Ranggaaa!!! Aku bukan gajah, bodoh. Nanti kalau aku sudah sembuh, nanti kuinjak-injak kamu sampai remuk! Biar kamu kapok dan tunduk padaku yang cantik nan imut ini!!” ujarnya kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Aku terhenyak mendengar perkataannya barusan ‘nanti kalau aku sudah sembuh’, itu kata yang mengandung harapan, ataukah tersirat jika ia sudah menyerah akan penyakitnya ini?
Dan aku pun sukses dibuat kebingungan entah untuk kesekian kalinya.
‘Sepertinya aku butuh tidur, biar tenang.’ batinku. Segera aku pamit pada Anna dan pulang ke flat tempat tinggalku selama di sekolah di Belanda.
  
xxxxxx

                Bulan demi bulan pun berlalu, selama hampir satu setengah tahun, Anna tinggal di rumah sakit. Selama itu pula, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Tetapi yang ada penyakitnya bertambah parah. Selama hampir satu setengah tahun ini pula, aku pulang-pergi dari kampus untuk menjenguk sekaligus merawat Anna.  Sebenarnya sih lelah juga pulang-pergi ke rumah sakit, Tapi aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk merawat Anna, dan janji itu harus kulaksanakan. 
                Aku baru selesai memberi Anna obat yang tadi pagi diberikan oleh dokter. Setelah ia meminumnya, tiba-tiba  ia pun menarik kain kemeja yang kukenakan.
“Ada apa?” tanyaku bingung sambil menaikkan sebelah alisku.
“Umm… Aku ingin meminta sesuatu padamu, boleh?” celetuknya gugup. Dan ekspresinya ketika gugup sangat lucu—lebih tepatnya imut.
Aku pun tertawa geli. Dan diriku pun sukses membuatnya memandangku dengan tatapan tajam nan mematikan terbaik milikknya.
‘DUAGH’ dan jitakan spesial penuh cinta mendarat dengan elitnya di kepalaku. “AWW, sakit tau, kepalaku ini terlalu berharga untuk dipukul oleh pukulan gajahmu tau!” rintihku.
“Ya udah, kalau mau minta sesuatu padaku, nggak usah gugup gitu. Mau minta apa emangnya? Tapi kalau mahal-mahal gak akan kubelikan.” ujarku padanya.
Anna pun tertawa kecil melihat tingkahku barusan. “Umm… Sebuah permintaan yang sederhana aja, tapi aku tak yakin kau akan menurutiku, apalagi penyakitku sudah parah.” jawabnya tersenyum
                —DEG!!!
                Perasaanku mulai tak enak. Ada apa sebenarnya. Kenapa tiba-tiba aku mendapat firasat yang buruk tentang Anna.
                “Ahh… Jangan kebanyakan basa-basi Anna, aku telah mengenalmu selama 4 tahun. Katakan saja, aku tak kan marah.” tanyaku tak sabar.
                Anna pun terkejut mendengarnya. Ia pun mengambil napas panjang.
                “Sebenarnya, aku ingin satu hari saja keluar dari rumah sakit. Satu hari saja! Aku hanya ingin melihat salju diluar, aku ingin merasakan pemandangan di luar dengan mata kepalaku sendiri, bukan dari bingkai kaca macam jendela.” jawabnya terisak. Tak dapat dipungkiri aku melihat bulir-bulir air matanya jatuh dari kelopak matanya. “Aku sudah lelah satu setengah tahun hanya melihat isi kamar ini, hanya warna putih yang terlihat sepanjang kau memandang, aku hanya ingin melihat salju diluar. Tak lebih dari itu.” lanjutnya.

Collab Fic OwO)/

 [Ini Fanfic Hetalia collab buatanku sama temenku. untuk lengkapnya, bisa diliat di --->  http://www.fanfiction.net/s/7421795/1/PotaTomatos_Sucks_School_Story]
xxxxxxxxxxxx 

A/N: Halo~ ini debut fict pertama dari 3P. Sebetulnya kami ragu mau publish fict ini. Tapi, atas pemaksaan #PLAK dari salah satu teman si Pervy dan Psycho si Hey Its Melmel (dia author dari fandom ES 21), jadinya kami nekat juga publish. karena kami masih terbilang newbie amatir. Jadi, maafkan kami jika masih banyak kesalahan entah itu typo dan tata bahasanya. Dan kami juga mohon bantuannya dari para senpai sekalian. (_ _)"
Last, Happy Reading, all!

PotaTomato's Sucks School Story
Hetalia Axis Powers Fanfiction
Rated: T
Genre: Humor
Disclaimer: We don't own Hetalia. But Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning: OOC-ness, Hetalia Gakuen style, AU (maybe?), Typo, a little shonen-ai hints, alur yang lambat, terlau banyak deskripsi dan minim akan dialog mungkin. If you don't like, don't read, okay? ^^

Notes:
Helena Karpusi: Ancient Greece
Lukas: Norway
Note 2: Dan saya mau ingatkan lagi, Fict ini dibagi jadi 3 POV. POV Antonio dan Gillbert, dan third POV. Last, Happy Reading!

Terlihat sebuah bangunan 5x5 meter yang didominasi oleh cat berwarna gading, dan terdapat banyak poster rumus entah itu phytagoras, logaritma, apapun itu yang mengandung angka-angka yang entah mengapa bikin orang malas dan terlalu ngantuk untuk membacanya, ya- kecuali orang yang otaknya terlalu cair dan rajin saja yang akan membacanya, mungkin juga menghafalkannya. Juga terdapat banyak bangku meja dan kursi yang masing-masing terdiri atas 30 buah.

Sudah bisa menebak ruangan apa itu? Ruang kelas, atau lebih tepatnya ruang khusus untuk belajar matematika, pelajaran yang sebagian besar membuat para siswa Hetalia Gakuen langsung sakit kepala dadakan dengan sebab yang tidak diketahui.

Jika hanya terdapat ruangan kelas tanpa ada penghuninya, nggak bakal seru kan? Nah, sekarang mari kita lihat isi dari kelas tersebut. Terdapatlah seorang guru coret-killer-coret-ramah, yang dengan luwesnya menulis tentang materi yang akan diberikan pada para murid-murid nakal-coret-penurut yang sedang menatap papan tulis dengan pandangan errr- absurd seolah apa yang ditulis oleh sang guru adalah kamus 10 milyar kata yang bisa bikin mata mereka rabun kalau membacanya terlalu lama.

"Jadi untuk memfaktorkan persamaan kuadrat, kita harus membuat nilai x sama dengan satu, kalian mengerti?" terang sang guru dengan entengnya seperti para murid telah lebih dulu mempelajari apa yang ia ajarkan. Realitanya? Mereka hanya bisa mengangguk-angguk pelan tanda mengerti padahal sebaliknya.
Mata guru tersebut memancarkan kepuasan sendiri jika apa yang ia tulis dipahami dengan baik oleh murid-muridnya (walau tentu saja dusta, yang ada sebaliknya). Kemudian ia kembali melanjutkan menulis rumus-rumus yang alih-alih diperhatikan atau hanya jadi pajangan manis di papan tulis bagi para murid.
Dari jejeran murid-murid tersebut, terlihat dua orang murid yang menatap papan tulis penuh rasa bosan, sungguh jika sang guru bukanlah termasuk daftar Guru galak, killer, bejat, dan sejumlah predikat buruk lainnya, mereka akan memilih kabur ke atap dan melakukan hal-hal yang menurut mereka berguna seperti tidur dan makan. Berguna untuk mengisi kembali energi yang telah terbuang kan?

Diketahui kedua murid itu adalah Gillbert Beilschdmit dan Antonio Fernandez Carriedo. Dua sekawan yang terkenal akan perbuatan onarnya bersama sahabat mereka satu lagi, Francis Bonnefoy. Sungguh, tangan mereka sudah terlalu gatal ingin mengerjai sang guru, namun sayang mereka lebih memilih diam saja daripada menerima hukuman dari beliau yang terlalu-kejam-dan-tidak-berperasaan bagi ukuran murid biasa.

_XXXXXXXXXX_

PotaTomato's Sucks School Story
Chapter 1: Monday, The (un)Awesome Math
Written by Pervy (We Are 3P)
Plot and story by Pervy and Psycho (We Are 3P)
We don't own Hetalia. But Hetalia © Hidekaz Himaruya
Happy Reading.. ^^

_XXXXXXXXXX_

Antonio's POV 
Satu kata yang bisa kuucapkan saat ini-bosan-. Aku memainkan pulpen yang kupegang untuk menghilangkan rasa bosanku. Kau tahu, aku sungguh-amat benci dengan mata pelajaran yang sekarang kuperhatikan ini. Matematika. Tidakkah kalian merasa mual dan ingin pergi ke toilet terdekat ketika melihat barisan-barisan angka laknat berderet di papan tulis dengan elitnya. Ukh, aku mataku saja sudah rabun duluan melihatnya.

Kutundukkan kepalaku menatap selembar kertas yang ternodai akan coret-coretan yang kubuat Aku memandang kertas itu sebentar dan beralih menatap papan tulis, menilik jejeran angka dan rumus yang minta dilihat disana. 'Oh tenang saja para angka, kalian akan kulihat kok walau hanya tiga detik saja.' Batinku pelan.

Entah kesambet Troll milik Lukas atau Peri-peri milik Arthur yang-entah-kenapa-aku sama sekali tak mempercayainya, rasa kantuk mulai menyerangku dan semakin menghantuiku. Perlahan namun pasti, aku mulai memejamkan mataku dan terlelap menuju alam mimpi yang penuh akan imajinasi.

_XXXXXXXXXX_

Gillbert's POV
"Nah… selesai." ujarku puas setelah melihat sketsa Gillbird yang kugambar barusan. "Awesome.. awesome." pujiku bangga. Menurut pandanganku yang awesome ini, aku merasa tak ada yang bisa menandingi pesona dari peliharaanku yang satu ini. Kecuali diriku dan Mattie tentunya. Tidak tahu siapa Mattie? Jika tidak, aku akan berbaik hati memaket kalian ke tempatnya Francis buat diraep, kebetulan dia lagi kekurangan sasaran raep lho…

-Nah, kembali ke topik-

Setelah aku berkagum-kagum ria akan ke-awesoman Gillbird, aku melirik kearah bangku yang diduduki Antonio. Kulihat Antonio sedang tertidur lelap bagaikan ia sudah tidak tidur 1000 tahun. Ouh, aku terlalu berlebihan sepertinya.

Entah apa yang ia lihat dalam bunga tidunya. Aku hanya berharap agar ia tak bermimpi sedang dijadikan sasaran raep Francis. Semoga tidak terjadi. 'ya sudahlah, mimpi yang indah deh.' batiku pelan sambil membayangkan apa yang ia mimpikan. Sudah pasti mimpi saat Antonio meraep-err melepaskan hasrat nafsu cintanya pada sang kekasih, Lovino tentunya.

Lalu, Kualihkan pandangan ke papan tulis. Terlihat Miss. Helena yang sedang menerangkan materi persamaan kentang-coret-kuadrat yang entah kenapa membuatku mati kebosanan. Mein gott, aku hanya ingin jam pelajaran laknat ini dipercepat satu jam saja. Sungguh, jika hal itu terjadi, aku mau nggantikan jadi babysitter si Feliciano, kekasih Ludwig selama dua minggu tanpa dibayar.

Ah, tentu saja pikiran-pikiran awesome milikku tak berlangsung lama. Tiba tiba terdengar sebuah suara-
"UWAAH! FRANCIS, JANGAN RAEP DAKU~ DAKU MASIH CINTA MATI SAMA LOVI-KU TERCINTA!"

Ukh, ternyata sumbernya dari Antonio ya. Satu hal yang dapat kuambil sekarang. Jangan berada di dekat Antonio jika ia sedang tidur kalau telinga kalian masih mau selamat dari ketulian massal. Eh, tapi Antonio panjang umur juga sepertinya. Baru juga kudoain biar dia gak mimpi diraep, malah dia memimpikan dan mengigau-secara-tak-sadar tentang hal itu.

Tak lama kemudian, kudapati Antonio yang tengah terbangun dengan memasang wajah horrornya dan meraba-raba bagian tubuhnya sejenak. Sepertinya masih merasa takut sendiri dengan mimpinya barusan. Setelah mendapati tubuhnya masih dalam keadaan baik-baik saja, terpancarlah kelegaan pada mata emeraldnya.

"Syukurlah, hanya mimpi kukira aku diraep beneran." bisiknya lega dan Antonio menoleh kearahku. "Oh ya Gil, aku tidur lagi ya. Aku belum puas tidunya." ujarnya sambil memasan cengiran padaku, lalu kembali pergi kealam mimpi.

Namun tak sampai semenit Antonio memejamkan matanya, tiba-tiba Miss Helena mendatangi bangku kami dengan memasang pose andalan para guru killer sejagat Hetalia Gakuen; berkacak pinggang ala nenek-nenek kebakaran jenggot, memasang death glare sangar miliknya dan menatap kami bagaikan narapidana gila kabur dari penjara.

"Ehm.. Carriedo, karena anda tertidur sepanjang pelajaran saya barusan, silahkan maju ke depan dan kerjakan soal-soal yang sudah saya tulis." perintahnya yang langsung membuat Antonio membulatkan matanya lebar-lebar dan ia pun maju dengan langkah gontai menuju papan tulis yang bagaikan area perangnya sekarang. Sekali lagi, aku hanya bisa berharap Antonio baik-baik saja sampai ia kembali ke bangkunya lagi. Tidak ada salahnya untuk berharap kan?

_XXXXXXXXXX_

Normal POV
Angka. Satu kata benda yang ingin Antonio kutuk, dengan cara apapun. Dan kata itulah yang harus dihadapinya saat ini. Ia tahu jika, angka, hitungan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan matematika adalah kelemahannya. Bahkan mengalahkan pelajaran-pelajaran lain yang sudah ia masukkan dalam blacklistnya. Kecuali jika dibelakang angka-angka tersebut dipasang lambing mata uang seperti € misalnya, baru ia bisa menghitungnya.

Ah, sepertinya kita sudah mulai tersesat dalam dunia akuntansi mungkin juga dunia Ekonomi dan kroni-kroninya, rupanya.

Antonio memicingkan matanya ke arah deret angka-angka yang ada tersebut. Entah akal apalagi yang harus ia gunakan untuk mengerjakan soal tersebut dan segera kembali ke singgasananya tanpa harus mendengar kicauan sumbang milik gurunya yang satu ini. Karena Antonio tahu, membuat Miss Helena marah sama saja dengan menceburkan diri sendiri ke larutan sop aspal pelangi dan dicampur dengan 100 buah scone rasa mati bahagia penuh cinta milik Arthur. Tentu ia masih sayang nyawa dan tak mau mati dengan tidak elitnya nantinya gara-gara hal tersebut.

Mencoba mengumpulkan benih-benih optimisme yang selalu menemaninya setiap saat, walaupun kini benih-benih tersebut mendadak pergi kabur entah kemana. Dan Antonio pun mulai mengerjakan soal-soal yang sedang dihadapinya.

"Tentukan jenis-jenis persamaan akar dari persamaan kuadrat berikut-" bacanya pelan. 'Tamatlah riwayatku, demi tomat-tomat dikebun, aku beneran gak bisa sama sekali!' batinnya sambil melirik kearah Gillbert dengan harapan dia tau jawabannya atau setidaknya cara mengerjakannya lah.
Dan Gillbert? Jangankan tanya rumusnya. Dia bahkan tidak paham sama sekali dengan soalnya. Dan ia hanya bisa mengangkat bahu tanda tak tahu dan membantu Antonio dengan doa.
Putus asa karena Gillbert pun tak dapat membantunya, akhinya Antonio mengerjakan soalnya dengan cara 'mengarang bebas asalkan mengerjakan'.

'Rumus asal-asal aja lah. Daripada gak ngerjain.' pikirnya pasrah.

_XXXXXXXXXX_

Miss Helena menggertakkan rahangnya ketika melihat jawaban yang dituliskan oleh Antonio yang bisa dikatakan sangat abnormal, labil, dan sejumlah kata-kata lainnya. Dari lima soal yang Antonio kerjakan, hasilnya nihil. Tidak ada satupun jawaban yang benar dan tentu saja, normal. Sang guru yang sudah naik pitam pun mengomeli Antonio dengan kicauan burung pipit kejepit pintu.

"JAWABAN MACAM APA INI? TIDAK ADA SATUPUN YANG BENAR!" kicaunya sambil melihat kearah papan tulis. Mungkin juga sang guru juga telah menyiapkan konser dadakannya yang akan dinikmati (atau menyiksa) Antonio nanti. Antonio hanya bisa menjawabnya dengan ketakutan. "Ma.. maaf, Miss. Ss.. saya benar-benar lupa cara mengerjakannya"

"Jangan coba-coba membohongi saya. Saya tahu jika kamu tidak memperhatikan pelajaran dan tidur di kelas." Ancam Miss Helena.

"Tadi sebelum saya tidur, saya memperhatikan materinya, Miss. Tapi saya benar-benar lupa." dustanya dengan memasang tampang aku-gak-berbohong. Oh, kau sudah pintar mengelabui rupanya, atau mungkin pintar cari muka dengan para guru killer. Namun sayang sepertinya alasan memelas yang baru saja keluar dari mulut sang Spaniard sepertinya tidak berlaku untuk sang wanita paruh baya tersebut. Ya, nungkin ia sudah berpengalaman menangani anak tukang cari muka dan tukang ngeles macam Antonio dan kedua sahabatnya tersebut.

"Saya sudah tekankan sekali lagi, JANGAN COBA MEMBOHONGI SAYA! Karena kamu sudah berbohong, hukuman untukmu! Push up 100 kali dan kerja bakti mengosek seluruh toilet pria setelah pulang sekolah!" perintahnya yang membuat bulu kuduk Antonio berdiri. 'Toilet pria? Kenapa gak koridor kek yang lebih elit gitu!' rontanya dalam hati.

Oh, sepertinya ini hari yang paling buruk seburuk muka troll milik Lukas sepertinya.

_XXXXXXXXXX_

Antonio's POV
"Baik, Miss." ujarku sopan sambil berjalan gontai kembali ke bangkuku. Haa… sepertinya guru itu gak punya selera humor ya, sampai segitunya kalau mengomeli murid. Kalau umurnya udah menua, aku jamin parasnya akan seperti wajah orang tua umur 100 mungkin 200 tahun. Aku jamin itu.

"Sabar ya, bro. semua ada hikmahnya kok." timpal Gilbert santai sambil menepuk pundakku tanda simpati. Ada hikmahnya, iya kalau sudah kiamat baru ada hikmahnya, Gil. Aku pun hanya bias menganggukkan kepalaku pelan.

Sialan. Rasanya aku ingin segera membunuh guru itu, atau menyiksanya perlahan. Minimal diracuni arsenik, atau dibius biar tidur 3 minggu juga tak masalah. Sepertinya, pikiranku terlalu labil, kawan.
Ah, sepertinya baru sekarang aku sedikit menyesali tidur saat jam matematika. Sudah mimpi diraep Francis, dihukum mengosek toilet pula. Dan sekarang aku hanya bisa berharap gurunya amnesia dadakan dan lupa dengan apa yang barusan dia omeli padaku. Dan sepertinya aku harus bilang sama Lovi jika aku tak bisa pulang bersamanya kali ini. That's a horrible things for me. Ya tuhan, tolonglah daku sekarang.

_END_

Omake (third POV)
"Gak lagi-lagi deh tidur di kelas. Aku takut mimpi diraep Francis." Keluh Antonio ketika ia kembali ke bangkunya.

Tak sampai semenit kemudian, pintu kelas pun hancur berkeping-keping didobrak seseorang dari luar. Suasana pun menjadi hening sesaat dan kembali ricuh lagi setelah terdengar sebuah suara.

"ANTONIO! KAU MERINDUKANKU KAH? SINI AKU BERIKAN KEHANGATAN CINTAKU PADAMU~!" rayu Francis padaAntonio. Tangannya pun menggengam tangan Antonio dan menariknya pergi ke UKS terdekat. Untuk dijadikan sasaran raep berikutnya tentu.

Gillbert pun hanya bisa cengo melihatnya. Dan berharap semoga affair Francis dan Antonio tidak sampai didengar Lovino. Itu jika Antonio masih ingin selamat, atau ia akan absen seminggu karena diraep oleh Lovino yang jadi seme dadakan jika sudah naik pitam. Semoga saja.

_End of omake_

A/N: Hola! We Are 3P disini~ *tebar kembang tujuh rupa* Umm… Kali ini kami, Pervy dan Psycho, bikin fict perdana di akun kami ini. Sebenarnya, ini debut pertamanya psycho di FFN, dan Pervy? Anggep aja ini comebacknya Pervy ke FHI (setelah setahun lamanya dia gak buat fict disini) Kali ini hanya kami berdua saja yang bikin fict dulu. Pedo sedang melanglang buana menjelajahi dunia NO. 6. *ditabok puffin* Dan kali ini Pervy yang online disini.
Umm… fict ini kita angkat dari pengalaman sendiri sebenernya. Cuman, kebetulan yang diomeli guru itu Pervy *masih illfeel sama gurunya* *dipentung buku matematika* oh ya, maaf ya, kalo aku (pervy) jelek-jelekin matematika disini. Alasan yang pertama, aku masih sebel sama gurunya (serius ._.v Maaf ya, Bu -piip-, nanti janji, mau rajin merhatiin pelajaran ibu deh… *ngeles lu* ._.) yang kedua, aku bener-bener kesel sama matematika (bilang aja nilai ulangannya yang saking jeleknya sampai gak biasa dideskripsiin).
Fict ini hanyalah kumpulan-kumpulan dari oneshoot belaka, jadi bukan multichap bersambung (yang entah kenapa kami ragu untuk bisa update cepat) jadi, jika kami belum bisa update cepat, kami minta maaf ya. Ya, karena kami sendiri juga banyak kesibukan di RL. Baik ulangan, UTS, try out bulanan, tugas sekolah se gunung juga ekskul masing-masing. Si Psycho sibuk cheerleader, Pervy sibuk dengan KIR, entah kalo Pedo. ._." *ditabok pedo* Tapi kami juga berusaha update kok.
Oke, segini dulu bacotan dari kami dulu yap. Sudikah kalian meluangkan waktu sejenak sekedar untuk member review entah konkrit, kritik, fangirling, asal jangan Flame! (We don't appreciated Flame D:)


Sign,
Pervy and Psycho.

Iseng~ OwO)/

Guten Abbend!!!!! /-w-)/
Entah kapan aku terakhir buka blog ini... setahun ada kali ya gak dibuka -w-
Yang jelas blog ini sempet gak keurus... atau mungkin terlupakan ._____. dan baru sekarang mau buka blog ini lagi -___________- #plak

Aku bingung mau cerita apa.... terlalu bingung -w-
bingungnya bagaikan jatuh ke samudera dan dikejar hiu LOL
yang jelas... minggu-minggu ini minggu suram.... terlalu suram bahkan....

Minggu ini aku mau rapotan, rapotan kenaikan :)
tapi sebelum itu.... REMIDINYAAAA REMIDINYA BERJIBUUUUUUNNN SAMPE JILID 3 SAMPAI EPISODE 3 ;A; *gantung diri di pohon toge*

Gimana gak bingung, gimana gak galau... kalau kamu remidi season 3 dan itu materi IPA semua... rasanya pingin terbang ke jamban dah --" bagiku, remidi mipa itu sesuatu.... saking sesuatu, sampai raga ini mau pingsan 7 hari 7 malem... pliss deh -3-

and then, aku kena remed kimia, matematika, B. indonesia masih.... *dan kemungkinan masih bisa nambah orz*

CUMAN DI SEKOLAH ANE SAMPE ADA REMED SEASON TIGAAAAAAA!!!!!!! CUMA DISINI WOYYYYYY!!!!!!!!! #legalau

Oke deh, kayaknya segitu aja ramblingan geje nan labil ala gue....
kapan-kapan disambung lagi yaaa (kalo sempet juga, bisa juga baru tahun depan OwO)

Adios~