Selasa, 19 Juni 2012

[sondless voice fo her] Lanjutannya~


[Lanjutannya, tempatnya gak cukup -________-] 
 
Aku sendiri pun tak tega melihat raut wajah sedihnya. Dia sungguh kuat, sanggup bertahan melawan penyakitnya yang semakin parah. Dan ia masih mau rawat inap di rumah sakit selama satu setengah setahun hanya demi kesembuhannya. Jika aku jadi dia mungkin aku sudah stressdan berakhir bunuh diri saat itu juga.
                Kurengkuh tubuh mungilnya dengan tanganku, dan memeluknya untuk membuatnya tenang. “Sebenarnya aku tak ingin menuruti permintaanmu karena udara salju diluar brbahaya untuk paru-parumu.” Anna pun mengeluarkan air matanya untuk kedua kalinya. “tapi, akan aku coba tanyakan hal ini pada dokter, apa kamu boleh keluar untuk melihat salju atau tidak. Tapi aku gak berjanji kau akan diizinkan.” ujarku tenang.
                “Benarkah? YAYYY!!!! Aku akan menunggu jawabannya, Rangga.” teriaknya lega dan dia kembali memelukku eratterlalu erat hingga aku sulit bernapas. Dan kembali ke ranjang tidurnya untuk kembali beristirahat.
                Kusibakkan selimut untuk membuat tubuh Anna hangat. Dan aku keluar dari kamarnya sambil tersenyum lega ketika melihat sepintas wajahnya yang terlelap dalam damai.

xxxxxx

                “Bagaimana, Rangga? Dibolehin dokter nggak?” tanya Anna sambil mempercepat langkahnya untuk menghampiriku. Aku pun segera menghampirinya dan menjitak dahinya dengan amat pelan.
                Anna pun mengaduh dan mengelus dahinya, “—AWW! Kau ini, main jitak aja kerjaannya.” dan hanya kutanggapi cuek.
                “Salahkan anak perempuan yang langkahnya secepat orang yang dikejar alien, padahal sakit.” jawabku cuek. Dan hal itu sukses membuatnya ngambek sambil menggembungkan kedua pipinya. Aku tertawa gemas melihatnya.
                “Hahaha… iya, maaf. Sebenarnya dokter sempat melarangmu untuk pergi keluar rumah sakit karena kondisimu yang masih lemah—” ujarku. Anna pun kecewa karenanya, sungguh lucu. “—tapi beliau memperbolehkanmu keluar, tapi tak lebih dari satu jam.” lanjutku kemudian.
                “Syukurlah, kukira aku tak diberi izin. Siapa tahu ini kali terakhirnya aku bisa melihat salju diluar.” celetukya sambil tersenyum.
—terakhir kalinya
Kenapa? Kenapa kata itu harus terucap
Dan kenapa firasatku terus memburuk?
Kenapa perasaan tak enak tentang Anna muncul lagi. Apa ini pertanda waktunya telah tiba? Aku pun tak tau dan tak berharap perasaan itu jadi kenyataan. Aku pun menyandarkan diriku ke dinding terdekat dan mencoba berpikir. Kuhiraukan Anna yang kini bingung sendiri dengan apa yang terjadi padaku. Samar-samar kudengar ia mengucapkan sesuatu.
                “Rangga…?”

xxxxxx

                Akhirnya kami pun berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan ke sebuah taman yang jaraknya tak jauh dari situ. Taman yang telah tertimbunkan salju, hamparan bunga Tulip yang biasa memberi warna pada taman ini pun ikut tertutup salju. Kulihat Anna  tak berhenti mengekspresikan kekagumannya dengan apa yang dipandangnya, terutama saat ia melihat hamparan putih salju disini.
                “Indahnya, aku rindu dengan suasana ini.” gumamnya sambil memejamkan matanya. “Rangga, kamu jahat juga ya, baru memberitahuku kalau ada taman yang seindah ini padaku.” cerocosnya sambil menggembungkan pipinya lagi, pura-pura cemberut.
                “Haha… ini namanya Taman Keukenhof, salah satu taman bunga yang terindah disini, ahh… bukan, tapi di seluruh dunia.” jawabku. Anna pun mengangguk paham.
                “Hmmm… lagipula, aku tak sampai hati memberitahumu, entar taman ini bakal rusak dirusakin sama kepala tulip betina macam dirimu.” candaku, Anna pun menginjak kakiku.
                Tapi memang aku sengaja tidak memberitahunya. Jika aku memberitahunya, maka ia akan mengajakku pergi ke sini, dan sekali lagi, dia tak bisa terlalu lama berada di lingkungan luar.
                Kami pun duduk di kursi taman yang kosong, sambil memandang langit. Tiba-tiba Anna pun menarik-narik jaketku.
                “Rangga, main lempar salju yuk, sudah lama aku tidak melukis wajahmu dengan lemparan salju milikku, ya…” pintanya tiba-tiba. Sungguh aku bimbang untuk menurutinya. ‘Apa tidak apa?’ batinku.
                “Hhh… baiklah jangan lama-lama, deal?” tawarku pada akhirnya dan hanya dibalas anggukan penuh semangat olehnya.
                Kami pun mulai mengambil bongkahan salju, dan mengepalkannya menjadi sebuah bola salju, lalu bola salju itupun kami lempar, saling melemparkan bola salju satu sama lain. Dan kami tertawa riang menikmati suasana ini, suasana layaknya sebelum Anna divonis mengidap penyakitnya, tanpa beban.
                Tak sengaja, bola salju milik Anna mengenai kepalaku. Seketika itu juga Anna tertawa melihat wajah dan rambutku yang berlepotan akan salju. Saat aku akan membalas lemparannya balik, kulihat raut wajahnya yang tiba-tiba putih memucat, dan senyum tawanya mulai memudar, ia pun limbung, dan terduduk di belantara salju. Deru nafasnya tersengal-sengal, aku pun segera menghampirinya, dan memeluknya agar ia merasa lebih hangat. Dan takkan membiarkannya mati konyol di taman ini.
                Anna yang nafasnya mulai sesak pun mengatupkan mulutnya berulang kali, mencoba mengambil nafas lebih banyak. Seketika, Anna memmegang jaketku dan menahan badannya agar tidak tumbang.
                “Hei, Rangga.” panggilnya, Aku pun terkejut dan refleks memeluknya lebih erat. Kurasakan firasatku semakin memburuk. “uhuk terima kasih kau mau mengajakku kesini…” ucapnya terbata. Apakah ini waktunya dia untuk pergi, pergi dari dunia yang fana ini.
                Kugeleng-gelengkan kepalaku, ‘Tidak… tidak, jangan hari ini, biarkanlah ia hidup.’ batinku memohon. “Anna, kau tak apa? Mau kugendong ke rumah sakit?” tanyaku. Namun Anna tak menanggapi ucapanku dan terus menyelesaikan ucapannya “terima kasih, telah menemaniku di saat apapun. Terima kasih kau mau menjagaku. Terima kasih kau mau menjadi sahabatku, ah tidak… Sahabat yang berharga bagiku. Melebihi apapun" deru nafasnya pun semakin sesak, kurasakan detak jantungnya semakin melemah. “Terima kasih untuk segalanya, Rangga…” lanjutnya. Dan perlahan tenaga Anna pun menghilang, pandangannya mengabur, dan kelopak matanya yang tertutup perlahan, membungkus mata indahnya. Anna pun jatuh tak sadarkan diri.
                “Oiii, Anna… bangunlah… bangun…” lirihku sambil meggoyangkan tubuhnya. Dan tak ada respon apapun darinya. Air mataku tak terbendung lagi, melihat Anna terbaring kaku. Kurasakan pembuluh nadinya berhenti berdenyut. Aku pun menitikkan air mataku, menangis sekeras yang aku bisa, meluapkan semua rasa sepi, kehilangan, dan sedih yang kurasakan ini.
                Dan Anna Wihelmina, sahabat yang kucintai telah pergi bersama Sang Dewi Salju. Beristirahat dalam damai dan menyunggingkan senyum malaikatnya mengiringi kepergiannya.

Air mata ku pun keluar, tanpa henti
Membentuk simfoni sarat kesedihan, simfoni tangis
Simfoni diantara salju pun ikut menemaninya
Pergi mengiringinya meninggalkan kefanaan dunia

xxxxxx

                AAKH!?
                Aku terbangun dari lamunanku, mungkin juga mimpi. ‘Lagi-lagi aku teringat malam itu…’ batinku. Sepertinya aku bermimpi tentang kejadian itu lagi. Entah kenapa sekuat apapun aku ingin menghilangkan memori itu, selalu saja hasilnya nihil. Aku berjalan tanpa arah di kerumunan orang-orang yang memandang kagum hamparan salju yang ada di taman kota. Ah, aku memang masih di Belanda, walaupun Negara ini juga yang meninggalkan serangakaian kenangan pahit pada ingatanku.
                Hari ini genap setahun kepergian Anna.  Setahun juga kenangan itu terkubur di otakku. Walaupun setahun telah berlalu. Hatiku masih tetap kosong, masih tetap hampa akan kepedihan dan kesepian.
                Aku pun berdiri dari kursi taman dan mulai berjalan lagi, menghindari keramaian. Pergi menuju tempat dimana aku bersama Anna terakhir kalinya. Pergi ke taman bunga itu. Tak terasa aku telah sampai di taman. Kupandang taman tersebut dengan pandangan kosong. “Seperti setahun yang lalu, tak ada yang berubah.” gumamku.
                Salju pun mulai turun menghiasi taman ini, salju yang turun tanpa suara. Aku menggerakkan tanganku ke depan, meraih butiran salju, kemudian butiran salju pun meleleh dan berubah menjadi bentuk yang lain, sama seperti Anna. Ia pergi meninggalkan dunia ini bersama kenangan-kenangan selama bersamanya. Hilang, tanpa suara terbawa Dewi salju. Seperti kilau matanya yang pelahan tertutupkan oleh kelopaknya dan takkan terbuka lagi untuk selamanya. Rasanya sungguh amat perih.

Namun, kini waktu pun tak dapat kembali.
Dia pun terlanjur pergi.

Hei, Anna apa yang harus kukatakan…
Meski kumencoba berteriak sekeras apapun…
Kau takkan bisa mendengarkan suaraku… Tak bisa mendegarnya lagi…
Apa kau kesepian disana, apa kau baik-baik saja disana…
Aku ingin bertemu denganmu, Aku rindu padamu…
Jangan tinggalkan aku sendiri disini, bukankah kita selalu bersama, kan?

Karena tanpamu…
Aku merasa sepi dan sendiri disini…
Hidup pun berubah menjadi monokrom…
Bagaikan hanya melihat warna abu-abu sepanjang mataku memandang
Tanpa ada warna lain yang mengelilingiku…

xxxxxx

                Dan salju pun mulai turun semakin deras… Hei, Anna kau tahu, aku bukanlah orang yang senang menggantungkan diri pada harapan? Tapi jika malam ini aku diberi satu permintaan, maka saat itu juga aku akan mengambil harapan itu dan berdoa agar menjadi kenyataan. Aku hanya berharap…
                aku hanya berharap kau dapat mendengar suaraku, memberikan senyuman manismu itu padaku. Berharap kau mengatakannya sekali lagi, katakanlah namaku, katakanlah… Aku ingin bersamamu seperti dahulu, setahun yang lalu…
                Dengarkan suaraku yang tak henti-hentinya menggumamkan namamu saat itu, yang terus menangis ditengah salju, walaupun air mataku telah membeku.
                —tes... tes… tes…
                Bulir-bulir air mataku terus berjatuhan… Dan salju pun semakin banyak dan turun bagaikan badai salju yang siap menerjang. Aku terus terdiam, tak berpindah tempat tuk menghindari salju, terus terdiam di tempat yang sama, merenungi seseorang yang sama. Air mataku terus bergulir jatuh dan kembali beku bersama salju, mencoba melepaskan jerit kesakitanku karena kehilangan Anna.
                Tuhan, jika memungkinkan… Jika aku bisa, ambilah semua. Ambilah suaraku, ambilah senyumku, ambilah ragaku ini… Berikan semua padanya, pada sahabat yang terlanjur kucinta. Sebab kurasa ku takkan bisa berdiri jika aku sendiri tanpanya. Sekuat apapun aku mencoba, hasilnya pun tetap sama.
                Aku berdiri, menunggu salju membawaku pergi, pergi bersamanya. Tubuhku pun mulai kedinginan, seakan menjadi sebeku es. Perlahan, pandanganku mengabur, kelopak mataku mulai tertutup, tubuhku mulai limbung dan terjatuh. Dan aku pun terjatuh bersama salju. Dan tertimbun bersama salju. Bersama semua kenanganku dan Anna. Anna, tunggulah aku, aku akan datang menyusulmu disana…
                “Ya, biarkan aku seperti ini, hingga akhir.” gumamku pelan, dan aku pun menutup mataku, hingga aku tak menyadari apapun.
Bersama turunnya salju…
Tolong teruslah turun, jangan berhenti…
Bawalah aku bersamanya
Bawalah suaraku, bawa pergi jiwaku…
Untuk dia yang ada disana…
Tolong hapuskan semua…
Hingga semua berubah menjadi putih
Seputih hamparan salju...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar