[Lanjutannya, tempatnya gak cukup -________-]
Aku sendiri pun tak tega melihat raut
wajah sedihnya. Dia sungguh kuat, sanggup bertahan melawan penyakitnya yang
semakin parah. Dan ia masih mau rawat inap di rumah sakit selama satu setengah setahun
hanya demi kesembuhannya. Jika aku jadi dia mungkin aku sudah stress—dan
berakhir bunuh diri saat itu juga.
Kurengkuh
tubuh mungilnya dengan tanganku, dan memeluknya untuk membuatnya tenang.
“Sebenarnya aku tak ingin menuruti permintaanmu karena udara salju diluar
brbahaya untuk paru-parumu.” Anna pun mengeluarkan air matanya untuk kedua
kalinya. “—tapi,
akan aku coba tanyakan hal ini pada dokter, apa kamu boleh keluar untuk melihat
salju atau tidak. Tapi aku gak berjanji kau akan diizinkan.” ujarku tenang.
“Benarkah?
YAYYY!!!! Aku akan menunggu jawabannya, Rangga.” teriaknya lega dan dia kembali
memelukku erat—terlalu
erat hingga aku sulit bernapas. Dan kembali ke ranjang tidurnya untuk kembali
beristirahat.
Kusibakkan
selimut untuk membuat tubuh Anna hangat. Dan aku keluar dari kamarnya sambil
tersenyum lega ketika melihat sepintas wajahnya yang terlelap dalam damai.
xxxxxx
“Bagaimana,
Rangga? Dibolehin dokter nggak?” tanya Anna sambil mempercepat langkahnya untuk
menghampiriku. Aku pun segera menghampirinya dan menjitak dahinya dengan amat
pelan.
Anna
pun mengaduh dan mengelus dahinya, “—AWW! Kau ini, main jitak aja kerjaannya.”
dan hanya kutanggapi cuek.
“Salahkan
anak perempuan yang langkahnya secepat orang yang dikejar alien, padahal
sakit.” jawabku cuek. Dan hal itu sukses membuatnya ngambek sambil
menggembungkan kedua pipinya. Aku tertawa gemas melihatnya.
“Hahaha…
iya, maaf. Sebenarnya dokter sempat melarangmu untuk pergi keluar rumah sakit
karena kondisimu yang masih lemah—” ujarku. Anna pun kecewa karenanya, sungguh
lucu. “—tapi beliau memperbolehkanmu keluar, tapi tak lebih dari satu jam.”
lanjutku kemudian.
“Syukurlah,
kukira aku tak diberi izin. Siapa tahu ini kali terakhirnya aku bisa melihat
salju diluar.” celetukya sambil tersenyum.
—terakhir kalinya
Kenapa?
Kenapa kata itu harus terucap
Dan
kenapa firasatku terus memburuk?
Kenapa perasaan tak
enak tentang Anna muncul lagi. Apa ini pertanda waktunya telah tiba? Aku pun
tak tau dan tak berharap perasaan itu jadi kenyataan. Aku pun menyandarkan
diriku ke dinding terdekat dan mencoba berpikir. Kuhiraukan Anna yang kini
bingung sendiri dengan apa yang terjadi padaku. Samar-samar kudengar ia
mengucapkan sesuatu.
“Rangga…?”
xxxxxx
Akhirnya
kami pun berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan ke sebuah taman yang
jaraknya tak jauh dari situ. Taman yang telah tertimbunkan salju, hamparan
bunga Tulip yang biasa memberi warna pada taman ini pun ikut tertutup salju.
Kulihat Anna tak berhenti
mengekspresikan kekagumannya dengan apa yang dipandangnya, terutama saat ia
melihat hamparan putih salju disini.
“Indahnya,
aku rindu dengan suasana ini.” gumamnya sambil memejamkan matanya. “Rangga,
kamu jahat juga ya, baru memberitahuku kalau ada taman yang seindah ini
padaku.” cerocosnya sambil menggembungkan pipinya lagi, pura-pura cemberut.
“Haha…
ini namanya Taman Keukenhof, salah satu taman bunga yang terindah disini, ahh…
bukan, tapi di seluruh dunia.” jawabku. Anna pun mengangguk paham.
“Hmmm…
lagipula, aku tak sampai hati memberitahumu, entar taman ini bakal rusak
dirusakin sama kepala tulip betina macam dirimu.” candaku, Anna pun menginjak
kakiku.
Tapi
memang aku sengaja tidak memberitahunya. Jika aku memberitahunya, maka ia akan
mengajakku pergi ke sini, dan sekali lagi, dia tak bisa terlalu lama berada di
lingkungan luar.
Kami
pun duduk di kursi taman yang kosong, sambil memandang langit. Tiba-tiba Anna
pun menarik-narik jaketku.
“Rangga,
main lempar salju yuk, sudah lama aku tidak melukis wajahmu dengan lemparan
salju milikku, ya…” pintanya tiba-tiba. Sungguh aku bimbang untuk menurutinya.
‘Apa tidak apa?’ batinku.
“Hhh…
baiklah jangan lama-lama, deal?” tawarku pada akhirnya dan hanya dibalas
anggukan penuh semangat olehnya.
Kami
pun mulai mengambil bongkahan salju, dan mengepalkannya menjadi sebuah bola
salju, lalu bola salju itupun kami lempar, saling melemparkan bola salju satu
sama lain. Dan kami tertawa riang menikmati suasana ini, suasana layaknya
sebelum Anna divonis mengidap penyakitnya, tanpa beban.
Tak
sengaja, bola salju milik Anna mengenai kepalaku. Seketika itu juga Anna
tertawa melihat wajah dan rambutku yang berlepotan akan salju. Saat aku akan
membalas lemparannya balik, kulihat raut wajahnya yang tiba-tiba putih memucat,
dan senyum tawanya mulai memudar, ia pun limbung, dan terduduk di belantara
salju. Deru nafasnya tersengal-sengal, aku pun segera menghampirinya, dan
memeluknya agar ia merasa lebih hangat. Dan takkan membiarkannya mati konyol di
taman ini.
Anna
yang nafasnya mulai sesak pun mengatupkan mulutnya berulang kali, mencoba
mengambil nafas lebih banyak. Seketika, Anna memmegang jaketku dan menahan
badannya agar tidak tumbang.
“Hei,
Rangga.” panggilnya, Aku pun terkejut dan refleks memeluknya lebih erat.
Kurasakan firasatku semakin memburuk. “—uhuk —terima
kasih kau mau mengajakku kesini…” ucapnya terbata. Apakah ini waktunya dia
untuk pergi, pergi dari dunia yang fana ini.
Kugeleng-gelengkan
kepalaku, ‘Tidak… tidak, jangan hari ini, biarkanlah ia hidup.’ batinku
memohon. “Anna, kau tak apa? Mau kugendong ke rumah sakit?” tanyaku. Namun Anna
tak menanggapi ucapanku dan terus menyelesaikan ucapannya “—terima
kasih, telah menemaniku di saat apapun. Terima kasih kau mau menjagaku. Terima
kasih kau mau menjadi sahabatku, ah tidak… Sahabat yang berharga bagiku.
Melebihi apapun—"
deru nafasnya pun semakin sesak, kurasakan detak jantungnya semakin melemah.
“Terima kasih untuk segalanya, Rangga…” lanjutnya. Dan perlahan tenaga Anna pun
menghilang, pandangannya mengabur, dan kelopak matanya yang tertutup perlahan,
membungkus mata indahnya. Anna pun jatuh tak sadarkan diri.
“Oiii,
Anna… bangunlah… bangun…” lirihku sambil meggoyangkan tubuhnya. Dan tak ada
respon apapun darinya. Air mataku tak terbendung lagi, melihat Anna terbaring
kaku. Kurasakan pembuluh nadinya berhenti berdenyut. Aku pun menitikkan air
mataku, menangis sekeras yang aku bisa, meluapkan semua rasa sepi, kehilangan,
dan sedih yang kurasakan ini.
Dan
Anna Wihelmina, sahabat yang kucintai telah pergi bersama Sang Dewi Salju.
Beristirahat dalam damai dan menyunggingkan senyum malaikatnya mengiringi
kepergiannya.
Air
mata ku pun keluar, tanpa henti
Membentuk
simfoni sarat kesedihan, simfoni tangis
Simfoni
diantara salju pun ikut menemaninya
Pergi
mengiringinya meninggalkan kefanaan dunia
xxxxxx
—AAKH!?
Aku
terbangun dari lamunanku, mungkin juga mimpi. ‘Lagi-lagi aku teringat malam
itu…’ batinku. Sepertinya aku bermimpi tentang kejadian itu lagi. Entah kenapa sekuat
apapun aku ingin menghilangkan memori itu, selalu saja hasilnya nihil. Aku
berjalan tanpa arah di kerumunan orang-orang yang memandang kagum hamparan
salju yang ada di taman kota. Ah, aku memang masih di Belanda, walaupun Negara
ini juga yang meninggalkan serangakaian kenangan pahit pada ingatanku.
Hari
ini genap setahun kepergian Anna.
Setahun juga kenangan itu terkubur di otakku. Walaupun setahun telah
berlalu. Hatiku masih tetap kosong, masih tetap hampa akan kepedihan dan
kesepian.
Aku
pun berdiri dari kursi taman dan mulai berjalan lagi, menghindari keramaian.
Pergi menuju tempat dimana aku bersama Anna terakhir kalinya. Pergi ke taman
bunga itu. Tak terasa aku telah sampai di taman. Kupandang taman tersebut
dengan pandangan kosong. “Seperti setahun yang lalu, tak ada yang berubah.”
gumamku.
Salju
pun mulai turun menghiasi taman ini, salju yang turun tanpa suara. Aku
menggerakkan tanganku ke depan, meraih butiran salju, kemudian butiran salju
pun meleleh dan berubah menjadi bentuk yang lain, sama seperti Anna. Ia pergi
meninggalkan dunia ini bersama kenangan-kenangan selama bersamanya. Hilang, tanpa
suara terbawa Dewi salju. Seperti kilau matanya yang pelahan tertutupkan oleh
kelopaknya dan takkan terbuka lagi untuk selamanya. Rasanya sungguh amat perih.
Namun,
kini waktu pun tak dapat kembali.
Dia
pun terlanjur pergi.
Hei,
Anna apa yang harus kukatakan…
Meski
kumencoba berteriak sekeras apapun…
Kau
takkan bisa mendengarkan suaraku… Tak bisa mendegarnya lagi…
Apa
kau kesepian disana, apa kau baik-baik saja disana…
Aku
ingin bertemu denganmu, Aku rindu padamu…
Jangan
tinggalkan aku sendiri disini, bukankah kita selalu bersama, kan?
Karena
tanpamu…
Aku
merasa sepi dan sendiri disini…
Hidup
pun berubah menjadi monokrom…
Bagaikan
hanya melihat warna abu-abu sepanjang mataku memandang
Tanpa
ada warna lain yang mengelilingiku…
xxxxxx
Dan
salju pun mulai turun semakin deras… Hei, Anna kau tahu, aku bukanlah orang
yang senang menggantungkan diri pada harapan? Tapi jika malam ini aku diberi
satu permintaan, maka saat itu juga aku akan mengambil harapan itu dan berdoa
agar menjadi kenyataan. Aku hanya berharap…
—aku
hanya berharap kau dapat mendengar suaraku, memberikan senyuman manismu itu
padaku. Berharap kau mengatakannya sekali lagi, katakanlah namaku, katakanlah…
Aku ingin bersamamu seperti dahulu, setahun yang lalu…
Dengarkan
suaraku yang tak henti-hentinya menggumamkan namamu saat itu, yang terus
menangis ditengah salju, walaupun air mataku telah membeku.
—tes...
tes… tes…
Bulir-bulir
air mataku terus berjatuhan… Dan salju pun semakin banyak dan turun bagaikan
badai salju yang siap menerjang. Aku terus terdiam, tak berpindah tempat tuk menghindari
salju, terus terdiam di tempat yang sama, merenungi seseorang yang sama. Air
mataku terus bergulir jatuh dan kembali beku bersama salju, mencoba melepaskan
jerit kesakitanku karena kehilangan Anna.
Tuhan,
jika memungkinkan… Jika aku bisa, ambilah semua. Ambilah suaraku, ambilah
senyumku, ambilah ragaku ini… Berikan semua padanya, pada sahabat yang
terlanjur kucinta. Sebab kurasa ku takkan bisa berdiri jika aku sendiri
tanpanya. Sekuat apapun aku mencoba, hasilnya pun tetap sama.
Aku
berdiri, menunggu salju membawaku pergi, pergi bersamanya. Tubuhku pun mulai
kedinginan, seakan menjadi sebeku es. Perlahan, pandanganku mengabur, kelopak
mataku mulai tertutup, tubuhku mulai limbung dan terjatuh. Dan aku pun terjatuh
bersama salju. Dan tertimbun bersama salju. Bersama semua kenanganku dan Anna.
Anna, tunggulah aku, aku akan datang menyusulmu disana…
“Ya,
biarkan aku seperti ini, hingga akhir.” gumamku pelan, dan aku pun menutup
mataku, hingga aku tak menyadari apapun.
Bersama
turunnya salju…
Tolong
teruslah turun, jangan berhenti…
Bawalah
aku bersamanya
Bawalah
suaraku, bawa pergi jiwaku…
Untuk
dia yang ada disana…
Tolong
hapuskan semua…
Hingga
semua berubah menjadi putih
Seputih
hamparan salju...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar