Selasa, 19 Juni 2012

[Cerpen tugas] Soundless Voice For Her

Note: Sebenernya ini cerpen waktu aku bikin tugas Bahasa Indonesia -_________- dan cerita ini abal.... Komentar pertama yang (kebanyakan) terucap hanyalah: MADESU SANGAT!!!! hiks.... *pundung* So, Happy Reading~ (>____<)

Note 2: Basic song----> Soundless Voice by Kagamine Len (THIS IS EPIC SONG!!! disarankan baca sambil dengerin lagu ini yaaaaaa)


“ Rangga, kapan aku keluar dari rumah sakit? Aku pingin bisa main lagi
                Kalimat itu yang selalu terucap dari bibirnya. Kalimat yang penuh rasa ingin tahu yang besar, dan terdengar begitu polos dalam pendengaranku. Terasa begitu ceria, namun di satu sisi terdengar menyakitkan. Mengingat orang yang mengucapkannya, tak lama lagi usianya akan berakhir, berakhir direnggut penyakit Pneunomia yang dideritanya sejak lama.
                Ya, orang yang kumaksud itu adalah seorang gadis yang kini tengah terbaring dihadapanku. Berbaring dan tertidur pulas bagaikan seorang bayi mungil yang masih begitu polos, namun ia terbaring di ranjang yang tekontaminasi oleh bau obat yang memuakkan. Sekujur   tubuhnya terpasang alat infus dan alat bantu pernapasan  yang sama sekali tak nyaman untuk dipakai. Terbaring di ruangan serba putih yang penuh bau obat dan alat-alat medis yang bertebaran.
Ya, dialah sahabatku, Anna Wihelmina. Sahabat terbaikku, dan gadis yang kini diam-diam menaruh benih cinta dalam diriku. Gadis baik hati nan polos yang kini raganya tengah berperang dengan penyakit yang menggerogotinya. Kadang ingin sekali aku menggantikan posisinya. Gadis baik sepertinya tak pantas untuk diserang penyakit seperti ini. Tak pantas untuk merasakan hal ini.

xxxxxx
Soundless Voice for Her
xxxxxx

Entah berapa lama aku telah melamunkannya. Sambil memandang paras eloknya yang kini terlihat sayu dan pucat. Kebetulan seminggu ini kampusku diliburkan, dan waktu liburan ini akan kuhabiskan untuk merawat Anna. Aku tak peduli akan tugas liburan yang menumpuk banyak di rumah. Yang kupikirkan saat ini hanyalah sahabatku seorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
              “Umm… Ra Rangga… Sesejak kapan kau menungguku?” tanya Anna polos. Tersirat perasaan khawatir dan sedih di mata hijaunya.
                “Hmm… Sejak satu jam yang lalu kok, kebetulan kampus libur seminggu. Jadi aku ingin merawat sahabatku yang polos ini dong.” candaku. Sebenarnya aku sedikit berbohong padanya. Aku sudah disini hampir semalaman, hanya saja lebih baik bohong sedikit daripada Anna memasang tatapan maaf—aku–sudah–merepotkanmu Dan seperti biasa, kalau sudah begitu aku juga merasa sedih sendiri dan bisa-bisa aku akan menenangkan hatinya yang terlalu peka pada perasaan itu selama seharian.
Aku memposisikan diriku di samping ranjang yang ditempati Anna dan duduk di kursi terdekat yang tersedia disitu. Kupandangi wajah sahabatku ini, yang semakin lama semakin pucat. Menutupi paras aslinya yang sebenarnya cukup manis dan cantik itu menurut pandanganku. Kemudian tanganku bergerak ke arah meja yang terletak manis di sebelah tempat tidur, dan mengambil makan sarapan yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk Anna. 
                “Anna, ini sarapanmu. Tadi seorang suster yang memberi ini padamu.” ujarku lembut sambil membantu Anna untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dan menyerahkan jatah sarapan padanya.
“Rangga!!! Udah kubilang berapa kali sama kamu kalau aku nggak suka makanan rumah sakit. Rasanya sungguh aneh di lidahku. Nonsense!” elaknya sedikit kesal dan menyerahkan piring sarapan lagi padaku.  Hei, itu makanan. Dan makanan apapun tak boleh disia-siakan.
                “Haiih, terima aja, An. Itu makanan kan udah diukur dengan kebutuhan asupan gizimu, jadi makan saja, menyia-nyiakan makanan itu gak baik, Sama aja kayak kau menyiakan uangmu. Nanti aku jewer kamu.” omelku bagaikan ibu-ibu yang memarahi anaknya yang bandel. Bedanya Anna bukanlah anakku, namun keras kepalanya menyamai anak-anak.
 Omelanku yang juga kuselipkan candaan garing itupun membuahkan hasil. Anna tertawa cerah mendengarnya, sudah lama ia tak tertawa seperti ini, semenjak ia tergerogoti Pneumonia yang sempat membuatnya shock dan kehilangan semangat hidup. Aku pun menggelengkan kepala geli dan tersenyum lega.
                  “Syukurlah. Terima kasih Tuhan.” batinku lega.
Dan tak berapa lama kemudian, Anna pun mulai mengambil jatah sarapannya padaku dan mulai memakannya. Aku menemaninya sarapan sambil mengelontarkan candaan lucu atau mendongeng pengalaman-pengalamanku selama di kampus. Dan ia tanggapi dengan senyuman polosnya yang seperti anak kecil yang ingin mengetahui dunianya.
                Anna pun tersenyum lagi dan meminum minumannya, dan ia menatapku dengan intens. 
                “Aku dengar kau batal pulang ke negaramu selama liburan.” tanyanya sambil menatapku.
                “Iya. Bagaimana aku bisa pulang ke Indonesia dengan tenang jika tugas liburannya Mr. Makarov mengganguku dan membuatku tak bisa liburan. Haha…” Jawabku bohong yang hanya ditanggapi Anna dengan seulas senyuman. Faktanya Mr. Makarov, Dosenku itu tak memberiku tugas liburan. Yang menjadi alasan utamaku menunda libur ke kampung halaman hanyalah karena Anna.
Aku ingin menemaninya, menjaganya, dan membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Dan menemaninya sebagai sahabat terbaiknya di waktunya yang tak kan lama ini. Dua hari yang lalu aku sempat bertanya pada dokter yang menangani Anna untuk menanyakan kondisi fisiknya, dan Dokter bilang bahwa usianya tak kan bertahan lama lagi. Mengingat penyakit Pneumonia Anna sudah sukar untuk sembuh.

Andai saja penyakit bisa berpindah orang
Ingin kugantikan dia untuk merasakan sakitnya
Apapun yang bisa dilakukan akan kulakuakan
Demi dia, sahabatku yang kusayangi…

xxxxxx

Hawa dingin yang menerjang Belanda terus menusukku. Kugosokkan kedua tanganku untuk menghangatkan diri, sambil menemani Anna berceloteh ria tentang hal apapun yang ingin ia katakan, dari hal yang normal sampai hal yang absurd sekalipun. Seperti ia yang membayangkan jika aku memakai baju perempuandan itu terlalu memalukan bagiku,  lalu ia memotretnya dan menjadikan foto itu sebagai bagian koleksinya. Atau ia berbicara tentang masa-masa yang ia telah lewati bersamaku, kejahilan-kejahilan yang telah ia lakukan padakudan kenapa aku yang harus jadi korbannya. Atau yang lainnya.
Aku pun sedikit terhibur dengan celotehan Anna itu, hanya sedikit. Sedikit juga tak masalah kan?
“Rangga, kamu dengerin aku gak sih?? Daritadi kamu bengong kayak habis liat gajah terbang, ehh ?” celetuk Anna tiba-tiba. Sepertinya aku kebanyakan bengong lagi.
“Ahh… aku emang lagi ngelamunin gajah terbang. Tapi gajahnya itu kamu yang pakai kostum gajah.” candaku sambil melirik wajahnya yang sudah memerah malu.
”Eeee… Ranggaaa!!! Aku bukan gajah, bodoh. Nanti kalau aku sudah sembuh, nanti kuinjak-injak kamu sampai remuk! Biar kamu kapok dan tunduk padaku yang cantik nan imut ini!!” ujarnya kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Aku terhenyak mendengar perkataannya barusan ‘nanti kalau aku sudah sembuh’, itu kata yang mengandung harapan, ataukah tersirat jika ia sudah menyerah akan penyakitnya ini?
Dan aku pun sukses dibuat kebingungan entah untuk kesekian kalinya.
‘Sepertinya aku butuh tidur, biar tenang.’ batinku. Segera aku pamit pada Anna dan pulang ke flat tempat tinggalku selama di sekolah di Belanda.
  
xxxxxx

                Bulan demi bulan pun berlalu, selama hampir satu setengah tahun, Anna tinggal di rumah sakit. Selama itu pula, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Tetapi yang ada penyakitnya bertambah parah. Selama hampir satu setengah tahun ini pula, aku pulang-pergi dari kampus untuk menjenguk sekaligus merawat Anna.  Sebenarnya sih lelah juga pulang-pergi ke rumah sakit, Tapi aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk merawat Anna, dan janji itu harus kulaksanakan. 
                Aku baru selesai memberi Anna obat yang tadi pagi diberikan oleh dokter. Setelah ia meminumnya, tiba-tiba  ia pun menarik kain kemeja yang kukenakan.
“Ada apa?” tanyaku bingung sambil menaikkan sebelah alisku.
“Umm… Aku ingin meminta sesuatu padamu, boleh?” celetuknya gugup. Dan ekspresinya ketika gugup sangat lucu—lebih tepatnya imut.
Aku pun tertawa geli. Dan diriku pun sukses membuatnya memandangku dengan tatapan tajam nan mematikan terbaik milikknya.
‘DUAGH’ dan jitakan spesial penuh cinta mendarat dengan elitnya di kepalaku. “AWW, sakit tau, kepalaku ini terlalu berharga untuk dipukul oleh pukulan gajahmu tau!” rintihku.
“Ya udah, kalau mau minta sesuatu padaku, nggak usah gugup gitu. Mau minta apa emangnya? Tapi kalau mahal-mahal gak akan kubelikan.” ujarku padanya.
Anna pun tertawa kecil melihat tingkahku barusan. “Umm… Sebuah permintaan yang sederhana aja, tapi aku tak yakin kau akan menurutiku, apalagi penyakitku sudah parah.” jawabnya tersenyum
                —DEG!!!
                Perasaanku mulai tak enak. Ada apa sebenarnya. Kenapa tiba-tiba aku mendapat firasat yang buruk tentang Anna.
                “Ahh… Jangan kebanyakan basa-basi Anna, aku telah mengenalmu selama 4 tahun. Katakan saja, aku tak kan marah.” tanyaku tak sabar.
                Anna pun terkejut mendengarnya. Ia pun mengambil napas panjang.
                “Sebenarnya, aku ingin satu hari saja keluar dari rumah sakit. Satu hari saja! Aku hanya ingin melihat salju diluar, aku ingin merasakan pemandangan di luar dengan mata kepalaku sendiri, bukan dari bingkai kaca macam jendela.” jawabnya terisak. Tak dapat dipungkiri aku melihat bulir-bulir air matanya jatuh dari kelopak matanya. “Aku sudah lelah satu setengah tahun hanya melihat isi kamar ini, hanya warna putih yang terlihat sepanjang kau memandang, aku hanya ingin melihat salju diluar. Tak lebih dari itu.” lanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar