Note 2: Basic song----> Soundless Voice by Kagamine Len (THIS IS EPIC SONG!!! disarankan baca sambil dengerin lagu ini yaaaaaa)
“ Rangga, kapan aku keluar dari rumah sakit?
Aku pingin bisa main lagi—”
Kalimat itu yang selalu terucap
dari bibirnya. Kalimat yang penuh rasa ingin tahu yang besar, dan terdengar
begitu polos dalam pendengaranku. Terasa begitu ceria, namun di satu sisi
terdengar menyakitkan. Mengingat orang yang mengucapkannya, tak lama lagi usianya
akan berakhir, berakhir direnggut penyakit Pneunomia
yang dideritanya sejak lama.
Ya, orang yang kumaksud itu
adalah seorang gadis yang kini tengah terbaring dihadapanku. Berbaring dan
tertidur pulas bagaikan seorang bayi mungil yang masih begitu polos, namun ia
terbaring di ranjang yang tekontaminasi oleh bau obat yang memuakkan.
Sekujur tubuhnya terpasang alat infus
dan alat bantu pernapasan yang sama
sekali tak nyaman untuk dipakai. Terbaring di ruangan serba putih yang penuh
bau obat dan alat-alat medis yang bertebaran.
Ya, dialah sahabatku, Anna Wihelmina. Sahabat terbaikku, dan gadis
yang kini diam-diam menaruh benih cinta dalam diriku. Gadis baik hati nan polos
yang kini raganya tengah berperang dengan penyakit yang menggerogotinya. Kadang
ingin sekali aku menggantikan posisinya. Gadis baik sepertinya tak pantas untuk
diserang penyakit seperti ini. Tak pantas untuk merasakan hal ini.
xxxxxx
Soundless Voice
for Her
xxxxxx
Entah berapa lama aku telah melamunkannya. Sambil memandang paras
eloknya yang kini terlihat sayu dan pucat. Kebetulan seminggu ini kampusku
diliburkan, dan waktu liburan ini akan kuhabiskan untuk merawat Anna. Aku tak
peduli akan tugas liburan yang menumpuk banyak di rumah. Yang kupikirkan saat
ini hanyalah sahabatku seorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
“Umm… Ra
Rangga…
Se—sejak kapan kau menungguku—?” tanya Anna polos. Tersirat perasaan khawatir
dan sedih di mata hijaunya.
“Hmm… Sejak satu jam yang lalu
kok, kebetulan kampus libur seminggu. Jadi aku ingin merawat sahabatku yang
polos ini dong.” candaku. Sebenarnya aku sedikit berbohong padanya. Aku sudah
disini hampir semalaman, hanya saja lebih baik bohong sedikit daripada Anna
memasang tatapan maaf—aku–sudah–merepotkanmu—
Dan seperti biasa, kalau sudah begitu aku juga
merasa sedih sendiri dan bisa-bisa aku akan menenangkan hatinya yang terlalu
peka pada perasaan itu selama seharian.
Aku memposisikan diriku di samping ranjang yang ditempati Anna dan
duduk di kursi terdekat yang tersedia disitu. Kupandangi wajah sahabatku ini,
yang semakin lama semakin pucat. Menutupi paras aslinya yang sebenarnya cukup
manis dan cantik —itu menurut pandanganku. Kemudian tanganku bergerak ke arah meja
yang terletak manis di sebelah tempat tidur, dan mengambil makan sarapan yang
telah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk Anna.
“Anna, ini sarapanmu. Tadi
seorang suster yang memberi ini padamu.” ujarku lembut sambil membantu Anna
untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dan menyerahkan jatah sarapan
padanya.
“Rangga!!! Udah kubilang berapa kali sama kamu kalau aku nggak suka
makanan rumah sakit. Rasanya sungguh aneh di lidahku. Non—sense!” elaknya
sedikit kesal dan menyerahkan piring sarapan lagi padaku. Hei, itu makanan. Dan makanan apapun tak
boleh disia-siakan.
“Haiih, terima aja, An. Itu
makanan kan udah diukur dengan kebutuhan asupan gizimu, jadi makan saja,
menyia-nyiakan makanan itu gak baik, Sama aja kayak kau menyiakan uangmu. Nanti
aku jewer kamu.” omelku bagaikan ibu-ibu yang memarahi anaknya yang bandel.
Bedanya Anna bukanlah anakku, namun keras kepalanya menyamai anak-anak.
Omelanku yang juga kuselipkan
candaan garing itupun membuahkan hasil. Anna tertawa cerah mendengarnya, sudah
lama ia tak tertawa seperti ini, semenjak ia tergerogoti Pneumonia yang sempat membuatnya shock dan kehilangan semangat
hidup. Aku pun menggelengkan kepala geli dan tersenyum lega.
“Syukurlah. Terima kasih Tuhan.” batinku lega.
Dan tak berapa lama kemudian, Anna pun mulai mengambil jatah sarapannya
padaku dan mulai memakannya. Aku menemaninya sarapan sambil mengelontarkan
candaan lucu atau mendongeng pengalaman-pengalamanku selama di kampus. Dan ia
tanggapi dengan senyuman polosnya yang seperti anak kecil yang ingin mengetahui
dunianya.
Anna pun tersenyum lagi dan
meminum minumannya, dan ia menatapku dengan intens.
“Aku dengar kau batal pulang ke
negaramu selama liburan.” tanyanya sambil menatapku.
“Iya. Bagaimana aku bisa pulang
ke Indonesia dengan tenang jika tugas liburannya Mr. Makarov mengganguku dan
membuatku tak bisa liburan. Haha…” Jawabku bohong yang hanya ditanggapi Anna
dengan seulas senyuman. Faktanya Mr. Makarov, Dosenku itu tak memberiku tugas
liburan. Yang menjadi alasan utamaku menunda libur ke kampung halaman hanyalah
karena Anna.
Aku ingin menemaninya, menjaganya, dan membuatnya bangkit dari
keterpurukannya. Dan menemaninya sebagai sahabat terbaiknya di waktunya yang
tak kan lama ini. Dua hari yang lalu aku sempat bertanya pada dokter yang
menangani Anna untuk menanyakan kondisi fisiknya, dan Dokter bilang bahwa
usianya tak kan bertahan lama lagi. Mengingat penyakit Pneumonia Anna sudah sukar untuk sembuh.
Andai saja penyakit bisa berpindah orang
Ingin kugantikan dia untuk merasakan sakitnya
Apapun yang bisa dilakukan akan kulakuakan
Demi dia, sahabatku yang kusayangi…
xxxxxx
Hawa dingin yang menerjang Belanda terus menusukku. Kugosokkan kedua
tanganku untuk menghangatkan diri, sambil menemani Anna berceloteh ria tentang
hal apapun yang ingin ia katakan, dari hal yang normal sampai hal yang absurd
sekalipun. Seperti ia yang membayangkan jika aku memakai baju perempuan—dan itu terlalu memalukan bagiku, lalu ia
memotretnya dan menjadikan foto itu sebagai bagian koleksinya. Atau ia
berbicara tentang masa-masa yang ia telah lewati bersamaku, kejahilan-kejahilan
yang telah ia lakukan padaku
dan kenapa aku yang harus jadi korbannya. Atau
yang lainnya.
Aku pun sedikit terhibur dengan celotehan Anna itu, hanya sedikit.
Sedikit juga tak masalah kan?
“Rangga, kamu dengerin aku gak sih?? Daritadi kamu bengong kayak
habis liat gajah terbang, ehh— ?” celetuk Anna tiba-tiba. Sepertinya aku
kebanyakan bengong lagi.
“Ahh… aku emang lagi ngelamunin gajah terbang. Tapi gajahnya itu
kamu yang pakai kostum gajah.” candaku sambil melirik wajahnya yang sudah
memerah malu.
”Eeee… Ranggaaa!!! Aku bukan gajah, bodoh. Nanti kalau aku sudah
sembuh, nanti kuinjak-injak kamu sampai remuk! Biar kamu kapok dan tunduk
padaku yang cantik nan imut ini!!” ujarnya kesal sambil melipat kedua tangannya
di depan dadanya.
Aku terhenyak mendengar perkataannya barusan ‘nanti kalau aku sudah
sembuh’, itu kata yang mengandung harapan, ataukah tersirat jika ia sudah
menyerah akan penyakitnya ini?
Dan aku pun sukses dibuat kebingungan entah untuk kesekian kalinya.
‘Sepertinya aku butuh tidur, biar tenang.’ batinku. Segera aku pamit
pada Anna dan pulang ke flat tempat tinggalku selama di sekolah di Belanda.
xxxxxx
Bulan demi bulan pun berlalu,
selama hampir satu setengah tahun, Anna tinggal di rumah sakit. Selama itu
pula, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Tetapi yang ada penyakitnya
bertambah parah. Selama hampir satu setengah tahun ini pula, aku pulang-pergi
dari kampus untuk menjenguk sekaligus merawat Anna. Sebenarnya sih lelah juga pulang-pergi ke
rumah sakit, Tapi aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk merawat Anna,
dan janji itu harus kulaksanakan.
Aku baru selesai memberi Anna
obat yang tadi pagi diberikan oleh dokter. Setelah ia meminumnya, tiba-tiba ia pun menarik kain kemeja yang kukenakan.
“Ada apa?” tanyaku bingung sambil menaikkan sebelah alisku.
“Umm… Aku ingin meminta sesuatu padamu, boleh?” celetuknya gugup.
Dan ekspresinya ketika gugup sangat lucu—lebih tepatnya imut.
Aku pun tertawa geli.
Dan diriku pun sukses membuatnya memandangku dengan tatapan tajam nan mematikan
terbaik milikknya.
‘DUAGH’ dan jitakan
spesial penuh cinta mendarat dengan elitnya di kepalaku. “AWW, sakit tau,
kepalaku ini terlalu berharga untuk dipukul oleh pukulan gajahmu tau!”
rintihku.
“Ya udah, kalau mau
minta sesuatu padaku, nggak usah gugup gitu. Mau minta apa emangnya? Tapi kalau
mahal-mahal gak akan kubelikan.” ujarku padanya.
Anna pun tertawa
kecil melihat tingkahku barusan. “Umm… Sebuah permintaan yang sederhana aja,
tapi aku tak yakin kau akan menurutiku, apalagi penyakitku sudah parah.”
jawabnya tersenyum
—DEG!!!
Perasaanku
mulai tak enak. Ada apa sebenarnya. Kenapa tiba-tiba aku mendapat firasat yang
buruk tentang Anna.
“Ahh…
Jangan kebanyakan basa-basi Anna, aku telah mengenalmu selama 4 tahun. Katakan
saja, aku tak kan marah.” tanyaku tak sabar.
Anna
pun terkejut mendengarnya. Ia pun mengambil napas panjang.
“Sebenarnya,
aku ingin satu hari saja keluar dari rumah sakit. Satu hari saja! Aku hanya
ingin melihat salju diluar, aku ingin merasakan pemandangan di luar dengan mata
kepalaku sendiri, bukan dari bingkai kaca macam jendela.” jawabnya terisak. Tak
dapat dipungkiri aku melihat bulir-bulir air matanya jatuh dari kelopak
matanya. “Aku sudah lelah satu setengah tahun hanya melihat isi kamar ini,
hanya warna putih yang terlihat sepanjang kau memandang, aku hanya ingin
melihat salju diluar. Tak lebih dari itu.” lanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar