Cita-Cita Sang
Boneka
Cita-cita adalah sebuah subtansi yang merupakan
perwujudan dari apa yang seseorang inginkan di masa yang akan datang. Cita-cita
datang dari hati nurani seseorang, mereka yang merasakan, mereka pula yang akan
mengejarnya. Tanpa tekanan dari manapun—seharusnya.
Namun hal itu tak berlaku untukku. Seorang Finno
Anderson—sang boneka yang dikendalikan sesuai ambisi orang lain, dan tak berhak
memiliki cita-cita dari hati nurani. Seluruh tubuhku serasa diikat oleh
benang-benang, lalu orang lain bertindak sebagai puppet master untuk mengendalikanku. Mengapa aku bisa bilang
begitu?
Aku adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri yang
menjadi pemilik sebuah perusahaan multinasional ternama. Dan seperti ambisi
para orangtua kebanyakan, anak-anak mereka kelak harus menjadi penerus mereka,
harus berjalan di jalan yang telah mereka persiapkan dan sang anak tidak
memiliki hak untuk mencari jalan hidupnya sendiri. Klasik.
Dan prinsip itulah yang orangtuaku terapkan kepada anak
semata wayang mereka. Mereka selalu mengikatku dengan sederet aturan-aturan
mereka. Mereka memberiku berbagai macam jenis kursus—yang mendukung untuk
menjadi penerus mereka. Tanpa memperhatikan apakah anaknya sendiri mau atau
tidak. Ironis kan?
Awalnya aku hanya menerima saja segala perlakuan mereka
padaku. Awalnya aku hanya berpikir jika mereka ingin melakukan yang terbaik
untukku. Namun lama-kelamaan mereka semakin mengekang kebebasanku. Dan aku
semakin sulit untuk menentukan jalanku sendiri.
***
Aku melampiaskan perasaan tertekanku dengan melukiskan
apa yang aku rasakan melalui kanvas. Dan hasilnya, selalu aku pajang di ruangan
kosong yang memang menjadi tempatku menyendiri. Lalu suatu hari temanku datang
berkunjung ke rumahku, dan ketika ia masuk ke kamarku, ia melihat kanvas
lukisan yang belum selesai serta alat lukisku yang tergeletak begitu saja di
kamarku.
“Itu lukisan buatanmu sendiri?” tanyanya sambil mengagumi apa yang ia lihat. Aku hanya
tersenyum sebagai balasannya.
“Wah, lukisan ini keren, sungguh! Kau berbakat jadi
Pelukis yang hebat nantinya. Kau tau, ketika aku melihat lukisanmu ini, aku
bisa merasakan perasaan yang kau curahkan didalamnya, jarang aku bisa menikmati
lukisan seperti ini loh.” pujinya.
“Aku
tak sehebat yang kau pikirkan kok.” ujarku “Dan menjadi pelukis? Dulu memang
aku sempat menginginkannya, tapi kurasa itu mustahil untuk diwujudkan oleh
boneka sepertiku, Rietta.” Kulihat Henrietta sedikit terkejut dengan apa yang
kuucapkan. Lalu ia pun menatapku, “Setiap orang punya hak untuk mempunyai
cita-cita juga impian yang bisa ia wujudkan.”
Sejujurnya aku masih ragu dengan diriku sendiri. Bolehkah
seorang boneka sepertiku mempunyai cita-cita? Bolehkah aku menentukan jalanku,
sedangkan aku adalah boneka tanpa ambisi. Aku hanyalah sebuah boneka yang
diharuskan menjalani peran yang telah diatur oleh pemilikku.
“Kau ini manusia, Finno. Kau berhak menentukan
cita-citamu sendiri. Tak seorang pun bisa menghalangimu. Jika kau dapat
berjalan di atas cita-cita dan kehendakmu sendiri, percaya padaku, itu adalah
hal yang terhebat!” Lalu Rietta menepuk pundakku “Makanya ada pepatah ‘Gapailah
cita-citamu setinggi langit’ kan?” ujarnya tersenyum.
Perlahan, kepercayaan diriku mulai bangkit, mengalahkan
sikap pesimis yang bersemayam dalam diriku selama ini. Ya, Finno Anderson
mencoba menjadi sebuah boneka yang bisa berjalan dengan kakinya sendiri.
***
Tapi seperti yang kalian ketahui, sang boneka tetaplah
mempunyai seorang pemilik. Dan sang pemilik takkan mau bonekanya berjalan tidak
sesuai dengan apa yang diinginkannya. Hal itu juga terjadi padaku. Ketika aku
mengutarakan keinginanku untuk mendalami seni lukis. Orangtuaku tak
menyetujuinya.
“Tak ada karier
yang prospek dalam bidang lukis”
“Lebih baik kau
meneruskan perusahaan orangtuamu ini, maka kau tak perlu repot-repot memikirkan
masa depan kariermu. Kau hanya tinggal belajar menjadi seorang penerus, cukup
dengarkan apa yang kami katakan padamu!”
Ucapan mereka terus terngiang di pikiranku. Mendengarnya,
semakin meyakinkanku jika kedua orangtuaku hanya menganggapku sebagai boneka
yang digerakkan untuk memenuhi keinginan mereka. Apa mereka menganggapku sebagai
anak mereka? Mungkin tidak.
“Aku ingin membuktikan pada mereka. Bahwa aku bukan
boneka yang bisa mereka gerakkan seenaknya. Aku harus bisa lepas dari kendali
mereka, bagaimanapun caranya.” Lalu aku
mencoba itu menyusun sebuah rencana untuk mencapai apa yang kuinginkan.
***
Kutorehkan berbagai warna di atas kanvas, mengikuti alur
sketsa yang telah kubuat sebelumnya. Dan kuulangi langkah tersebut terus
menerus hingga membentuk sebuah gambar di kanvas tersebut. Aku tersenyum ketika
melihat karyaku yang baru selesai kubuat. Adalah gambar seekor kupu-kupu yang
hinggap di tangan seorang wanita, yang terlihat di atas kanvasku. Terlihat sang
wanita mengagumi kupu-kupu tersebut. Wanita tersebut diibaratkan seperti
seseorang yang terkekang dan tak bisa bebas, dan iri melihat kupu-kupu tersebut
bisa terbang dan hinggap dimana pun yang diinginkannya.
‘Kupu-kupu, lambang kebebasan, hal yang mungkin tidak
dipunyai sang wanita.’ batinku. Lukisan
tersebut mengingatkan pada diriku sendiri, hmm…
Lukisan ini akan kukirim ke Italia untuk diikutkan dalam
pameran seni dunia yang diadakan oleh negara tersebut. Pameran seni tersebut menggunakan
konsep ‘Arti Kebebasan’ sebagai tema utamanya. Diriku yang pada saat itu
tertarik dengan pameran tersebut mencoba mengirimkan satu lukisanku ke sana.
Tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku tentunya.
“Yup, waktunya dipaketkan!” lalu aku bergegas keluar
kamar dan mulai menyiapkan apa yang kuperlukan.
***
Sebulan kemudian, sepucuk surat dimasukkan ke dalam kotak
pos rumahku. Kemudian aku pun mulai membuka dan membaca isinya. Dan aku membaca
sebuah alinea yang membuatku tak berhenti untuk tersenyum sumringah.
‘Selamat,
Karya Mr. Finno Anderson telah terpilih sebagai Karya Terbaik dalam
Festival Seni Dunia 20xx yang dilaksanakan di Venesia, Italy.’
Tuhan, apa aku bermimpi? Apa yang kumimpikan semalam? Aku
mencoba menampar pipiku, memastikan ini hanyalah mimpi. “—ouch” erangku
kemudian. Sayangnya aku sedang ada di dunia nyata. Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan
untukku. Tapi aku percaya, hal ini adalah awal bagiku untuk menggapai cita-cita
yang kuinginkan. Dan menjadi boneka bernyawa yang berjalan dengan langkahnya
sendiri.
Aku tak bisa berhenti bersyukur dan tersenyum untuk itu.
***
6
tahun kemudian…
“Mr. Anderson, jadwal anda bulan ini meluncurkan karya
anda dalam Pameran seni di Helsinki dan Paris…” Asistenku membacakan jadwal
yang harus kulaksanakan dalam waktu sebulan, dan aku harus menyiapkan 2
lukisanku untuk dipamerkan di sana.
“Terima kasih, Paula.” ucapku berterimakasih, lalu
dibalasnya dengan anggukan singkat. Kemudian aku izin padanya untuk
beristirahat sejenak di kafe yang ada di dekat sini. Menemui seseorang.
Kini aku dapat mencapai cita-citaku sebagai pelukis yang
diakui dunia di usia yang masih cukup muda, 23 tahun. Semenjak prestasi yang
kudapatkan di pameran seni di Italia dahulu, aku semakin bersemangat untuk
berkembang dan mengirimkan karyaku di berbagai festival dan pameran. Semakin
banyak para kolektor yang mengenal karyaku dan membelinya, dari hasil penjualan
tersebut kugunakan untuk membiayai kehidupanku.
Bagaimana degan orangtuaku? Mereka tetap berusaha untuk
melarangku pada awalnya. Namun, aku tetap teguh dengan apa yang kuperjuangkan.
Perlahan mereka mulai mengerti dan mengatakan padaku jika aku bebas untuk
menentukan jalanku sendiri. Sungguh melepaskan diri dari aturan dan kekangan
orangtuaku adalah hal yang sangat membahagiakan. Tak ada yang lebih
membahagiakan dari ini.
Sesampainya aku di kafe, Seorang wanita bersurai pirang
dan bermanik biru safir menyapaku dan memberiku senyuman. Aku bergegas menuju
mejanya dan duduk di kursi kosong di depannya.
“Jadi kau sudah menjadi boneka yang ‘bernyawa’, Finno.”
Henrietta mulai membuka pembicaraan sambil menatap manik violet milikku. Aku
memberinya anggukan pelan.
“Jika kau tak memberiku motivasi waktu itu, aku tak akan
menjadi diriku yang sekarang, dengan berjalan di kehidupanku sendiri, Rietta.”
sahutku. Lalu Henrietta tertawa pelan. “Aku bosan saja melihatmu yang seperti
boneka hidup saat itu, dan kau juga sahabatku. Sudah sewajarnya aku membantumu,
kawan.”
Lalu kami tersenyum, menikmati hidangan yang tersaji dan
menikmati waktu kami bersama dengan damai…
—Cita-cita
adalah hak setiap manusia, dan akan terwujud apabila kamu mempunyai tekad untuk
meraihnya— Finno Anderson
***A/N: Sebenernya ini cerpen dibuat tugas gara-gara hari kecepit, tapi ternyata sekolahku gak nyuruh ngumpulin... ya udah XD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar