“Kalung ini akan menghubungkan kita, meski kita tidak bersama lagi…
Jean…”
.
“MARCOOOOO-------“
Dan
jeritan pilu itupun terdengar hingga dinding kamar itu… dan perlahan hilang
bersama hembusan angin yang berhembus dari kaca yang jendela kamar asrama yang
telah terbuka. Terdengar hembusan napas
tak beraturan keluar dari pria bersurai pirang kecoklatan tersebut. Seakan
mimpi buruk tengah mengejarnya tiada ujung. Mimpi buruk sarat akan trauma dan
jerat ketakutan masih menghantuinya. Jean melirik jam yang terpampang manis di
atas dinding kamar asramanya. ‘Jam 2 pagi?’ gumamnya pelan. Lalu ia mendudukkan
dirinya diatas ranjang. Pikirannya melayang kemana-mana, dan sialnya…
Dari
sekian banyak memori yang ada di otaknya, mengapa ia harus terbawa kedalam
memori itu… Memori yang ingin tak diingatnya lagi—seumur hidupnya.
.
.
Shingeki no Kyojin (Attack on
Titan) Fanfiction
The Memories of Silver
Necklace—that presented by Pensil Awesome
Discleamer: Shingeki no Kyojin
belongs to Hajime Isayama. Saya buat fic ini buat pelampiasan insom kok u_u
Warning: OOC, a little bit of AU
things, plotless, little bit angst!JeanMarco, alus loncat sana-sini, dan segala
keabalan lainnya /dor If you don’t like, please click back button, the flame
isn’t solving the problem bro XD
Italic= Flasback
Enjoy!
.
.
“Apa kau mengenal mayat tersebut,. Agar kami dapat menevakuasinya”
tanya seorang petugas evakuasi yang ada di hadapan Jean.
Jean menegukkan ludahnya sejenak. Lalu mengucapkan sebuah kalimat yang
tak ingin ia ucapkan… “Anggota Training Corps angkatan 104—pemimpin pasukan
19—“ terdiam sejenak, lalu menghembuskan napasnya perlahan. “—Marco Bodt.”
Dan kemudian petugas evakuasi tersebut menuliskan sesuatu dalam papan
catatan miliknya.
Jean tak percaya apa yang telah
dilihatnya. ‘Ini… Mustahil—’ Sungguh, siapapun bangunkan dia, dengan cara yang
sesadis apapun ia rela… Asal—ia dapat terbangun dan menganggap ini hanyalah
delusi belaka.
—Sayang ini bukan delusi. Inilah
kenyataan, Jean…
Pemandangan jasad seorang
sahabat—tidak melainkan orang yang ia cintai diam-diam melebihi seorang Mikasa
Ackerman. Dengan bagian tubuh yang hanya tinggal setengah—setengah utuh saja
cukup membuat dinding emosinya pecah begitu saja.
Ia tetap berjalan kearah jasad
sang sahabat. Memandanginya penuh pilu… Hingga Jean menyadari satu hal…
Tergantung sebuah kalung perak berbandulkan sebuah cincin perak masih
tergantung di lehernya.
—kalung yang menyimpan kenangan tentang
mereka berdua…
.
.
(7 tahun yang lalu)
Kala itu Jean yang sedang
tiduran di beralaskan padang rumput yang masih hijau, memandangi keindahan
langit biru dengan pandangan bosan. Yah, kala itu dinding yang melindungi
mereka dari ancaman Titan-titan yang berkeliaran masih berdiri dengan kokohnya.
Sungguh, hanya kedamaian dan sedikit rasa jenuh yang Jean rasakan. Hingga…
“JEAAAANNNNN—” Terdengarlah teriakan penuh keceriaan yang berasal dari
seorang anak dari kejauhan. Anak bersurai kehitaman, mempunyai poni belah
tengah serta mempunyai beberapa bintik-bintik kecil di sekitar wajahnya berlari
menghampiri Jean.
“Jean! Lihat apa yang barusan kubawa.” ujarnya sambil mengeluarkan
senyuman malaikatnya. Lalu ia
mengeluarkan dua buah rantai kalung perak berbandulkan sebuah cincin di
masing-masing rantainya. Lalu menyerahkan menggantungkan salah satu dari kalung
tersebut ke leher Jean.
“O-oi… Marco, apa yang kau pasang oi….” protes Jean yang hanya
ditanggapi oleh senyuman Marco.
“Ayahku memberikan ini padaku tadi… Karena ada dua buah, maka
kukasihkan satu padamu. Agar kita bisa terus teringat satu sama lainnya. Penghubung
antar dua sahabat—“ kemudian Marco melanjutkan ucapannya lagi. “Kalung
ini akan menghubungkan kita, meski kita tidak bersama lagi… Jean…” lanjutnya
dengan rona kegembiraan di wajahnya.
Jean hanya diam mendengar penjelasan Marco—speechless. Tak menyangka
sahabatnya bisa mengeluarkan kalimat yang membuatnya terdiam seperti ini. Lalu
Jean menjulurkan kelingking kanannya dihadapan Marco. “Ya sudahlah. Kalau gitu
berjanjilah padaku, kita akan selalu bersama” sahutnya cuek.
Dan Marco mengaitkan kelingking kanannya dengan kelingking Jean. Dan
hari itu, sebuat janji mengikat sepasang sahabat itu…
.
Jean tertegun mengingat janji itu…
Janji 7 tahun yang lalu bersama
Marco, bahkan membuat mereka masuk ke Training Corps bersama. Dan Marco dengan setia selalu mendampingi
Jean dan menemaninya dalam keadaan sesulit apapun. Setidaknya hingga hari ini…
Takdir yang telah memutuskan
janji yang mereka buat dengan kejamnya. Memutus ikatan mereka di dunia dengan
mengambil salah satu diantara mereka.
Segera, Jean mengambil kalung
perak tersebut dari leher sang jasad. Lalu segera dikantongkan kalung tersebut
ke dalam saku jaketnya. Berusaha menahan emosinya agar tak runtuh melihat jasad
Marco, dan mengingat kenangan yang telah mereka lakukan selama ini.
Kemudian Jean berbalik arah,
berlari kemanapun yang ia bisa, untuk melampiaskan semua kesedihan yang
menumpuk di hatinya… Jerit pilu setelah kehilangan orang yang ia cintai untuk
selamanya. Berlari bersama dua kalung perak, salah satunya telah berlumuran
oleh cairan merah dan pekat di salah satu bandulnya.
—Selamat tinggal, Marco—terima kasih selama ini kau terus menemaniku
.
.
Jean terhenyak.
Rasanya otaknya sudah tak sanggup menahan kenangan tersebut. Katakanlah ia
melankolis pun ia tak peduli. Yang hanya ia inginkan saat ini hanyalah Marco.
Marco-nya seseorang. Kini ia menatap
kearah jendela kamarnya, menatap kearah bulan yang sedang menerangi langit
malam.
Ia
menatap bulan, menyampaikan seuntai kalimat yang takkan pernah tersampaikan…
Kalung perak ini akan selalu terukir kenangan kita
Kenanganmu dan kenanganmu
Meski kita sudah
tak bersama dan dipisahkan oleh takdir
Namun jiwamu takkan pernah terpisah denganku, kita akan selalu bersama
Marco….
.
.
-FIN-
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar